Wilujeng Sumping...

Ini blog seorang mida, yang -seperti manusia lainnya- punya banyak kisah dan masalah untuk diceritakan dalam perjalanan hidupnya. Silakan masuk, duduk di mana aja dan baca-baca sesuka hati. Mau teh atau kopi? ^_^

31 Mei 2010

A B U A

Meskipun telah menjadi tante bagi delapan orang ponakan (yang termuda baru berumur 8 hari ^_^), aku selalu dibuat kebingungan oleh tingkah anak kecil. Salah sikap, bisa jadi akan berakibat buruk bagi memori mereka yang masih polos. Hmmm... Latihan dan pelajaran sebelum punya sendiri ntar, hehehe... :p

Dulu, waktu nge-kos di Jogja, aku sering dibuat pusing oleh tingkah anak bungsunya ibu kos yang saat itu baru berusia tiga tahun.

“Tu, wa, ga, mpa...”. Pokonya kalo di tangga udah kedengaran suara cadel diiringi langkah-langkah kecil seperti ini, para ‘penduduk lantai atas’ alias anak-anak kos langsung heboh.

“Pengacau datang...!! Tutup Semua pintu!!” Barang-barang berharga pun ‘diamankan’. Dan sang monster cilik itu pun tiba dengan cengirannya yang khas. Langsung dia beraksi menggapai-gapai dan melempar semua benda yang menurutnya lucu kalo dilempar, hehe...

Monster cilik itu bernama Tulpin. Nama sebenarnya Alvin. Kulitnya putih bersih, bibirnya merah, kalo nyengir mirip banget sama ibunya, lucu, deh! Seperti anak sebayanya yang lain, dia punya hobi ngacak-ngacak dan melempar. Sudah banyak korban berjatuhan, dari mulai benda sekecil flash disk yang dilemparnya dari puncak tangga ke lantai bawah sampe telor mentah setengah kilo yang dimuncratkannya ke lantai kamarku (walopun udah dipel berkali-kali, ‘wangi’-nya masih tercium berhari-hari).

Selain hobi melemparnya yang nyebelin itu, ada satu hal yang suka bikin aku gemes dan kadang ketawa ngakak. Meski umurnya genap tiga tahun, tapi dia masih menggunakan bahasa alien. Sebagai contoh, sapaannya yang biasa padaku adalah, ‘Ba Nda a-i apa-i?’ yang artinya adalah ‘Mbak Mida lagi ngapain?’

Itu sih masih mending. Nah, suatu ketika, saat aku asyik membaca, dia lagi anteng memasukkan balok-balok kayu kecil yang bergambar huruf dan angka ke dalam sebuah kotak. Tiba-tiba dia mengacungkan kotak penuh balok kayu itu kepadaku sambil berseru, “Abua!”

“Apa, De?” Tanyaku bingung.

“Abua!” Ulangnya.

“Apaan sih ‘abua’?”

“Abua...,” katanya mengacung-acungkan kotak yang dipegangnya.

“Nggak ngerti, ah.”

“Abuaaa...” Kayaknya dia mulai kesal. Biasanya dia akan keukeuh mengulangi kata-katanya sampe yang diajak bicara mengerti apa maksudnya. Gawatnya, kalo kita nggak ngerti juga dia bakal nangis.

“Oh, oke, deh, abua...,” kataku dengan menambahkan dalam hati ‘whatever it is’. Untungnya dia baek, nggak nangis dan kemudian menumpahkan isi kotaknya lalu kembali memasukkan balok-balok kayu itu satu persatu.. Aku pun meneruskan membaca. Saat pengasuhnya datang, aku bertanya, “Mbak, ‘abua’ apaan sih?”

“Apa, De?” Mbaknya juga ternyata nggak ngerti, padahal dia satu-satunya penerjemah si Tulpin :D.

“Abua...” Tulpin mengulangi kata ajaibnya sambil kembali mengacungkan kotak penuh balok kayu warna-warni. Berkali-kali kami menebak maksudnya, tapi Tulpin tetap menggeleng. Akhirnya aku dan pengasuhnya terdiam, mikir, mengira-ngira kata apa yang bunyinya mirip ‘abua’ tapi berhubungan dengan kotak dan balok kayu.

“Ooooh....” Tiba-tiba pengasuhnya nyengir, “Nggak muat, ya, De?”

“Iyaaa.” Tulpin mengangguk senang.

Astaga...! Rupanya untuk membesarkan anak, kita harus punya kamus bahasa Alien! :D

18 Mei 2010

Tolong Habiskan....


Entah kenapa, aku sering kesal dengan orang yang menyisakan makanan di piringnya. Ada aja alasannya.

Aku pernah melihat pemandangan yang bikin aku shock. Di jalan kecil menuju tempat kos temanku, aku melihat seorang pria berusia lanjut, kumuh, baju robek-robek dan kotor, sedang lahap memakan sesuatu. Dan aku harus menahan mual karena dia memakan nasi bungkus yang sepertinya berasal dari tempat sampah, dengan sisa-sisa duri ikan tengah dijilati di mulutnya. Dan pemandangan seperti ini tidak hanya aku saksikan satu kali.

Aku juga pernah memiliki seorang teman, anak yatim yang tidak mampu, bercerita bahwa suatu saat, dia merasa lapar, tapi sang ibu tak punya uang untuk membeli makanan. Nasi kemarin telah habis. Akhirnya, sang ibu mengumpulkan sisa butir demi butir nasi kemarin yang ‘nyangkut’ di tempat nasi. Dan nasi itulah yang dimakan temanku. Saking tidak mampu lagi menafkahi, akhirnya temanku diserahkan sang ibu ke panti asuhan.

Maka, setiap kali aku nggak mampu menghabiskan makanan di piringku, aku selalu merasa bersalah. Sebisa mungkin aku habiskan hingga butir nasi yang terakhir (sampai-sampai teman-teman suka meledekku dengan bilang bahwa piring bekas makanku nggak perlu dicuci saking ‘bersihnya’). Dan Islam juga mengajarkan hal ini. Bahwa dalam sepiring makanan, kita tidak tahu, bagian mana yang membawa berkah, hingga kita harus menghabiskannya. Siapa tahu berkah itu justru ada di suapan yang terakhir. Hanya Allah yang tahu. Sayang, kan, jika kita makan hanya mendapatkan kenyangnya, tapi berkahnya ternyata kebuang di tempat sampah?

Karena itu, please, saat akan mengambil makanan, sesuaikan dengan porsi makan kita. Jangan karena ‘lapar nafsu’, kita lalu mengambil banyak lalu ternyata nggak muat di perut dan akhirnya terbuang. Atau jika makan di rumah makan yang kira-kira satu porsinya tidak akan habis, sebisa mungkin bilang pada pelayan untuk mengurangi porsi tersebut. Berjuanglah untuk memakannya sampai tak tersisa. Percayalah, hal itu layak untuk dilakukan.

Kita adalah orang-orang beruntung yang mampu membeli makanan setiap hari. Kita tidak perlu mengorek sampah hanya untuk mengganjal perut yang kelaparan, tidak perlu puasa tanpa berbuka karena tak punya uang. Jadi, bersyukurlah dengan makanan yang dinugerahkan Tuhan kepada kita dengan menghabiskannya.

*Ngeblog sambil berjuang ngabisin nasi goreng*

Sumber gambar: blog.americanfeast.com

11 Mei 2010

Award dari Septa


Horeee... Seumur-umur ngeblog, baru kali ini dapet award :D (ya, siapa gw gitu ya, apdet aja belang-betong, blogwalking juga sakarepna, heuheu...). Tapi, juragan pupuk yang baik hati memberiku award ini, ceritanya biar aku ngeblognya tambah semangat ya? Iya, deh....

Tapi, aku sungguh-sungguh harus minta maap karena harusnya award ini dipasang di blogku yang satunya. Sayang, jaringan internet gretongan di sini ternyata tidak bersahabat dengan blog yang itu, huhuhu.... Daripada kena jewer karena PR-nya terlambat dikerjakan, dengan amat sangat terpaksa sekali, kupasang di sini meskipun yang ngasih mungkin jadi manyun. Maap yaaa... :'(

Nah, award 'You Are Nice Blogger' ini dapat meningkatkan traffic dengan mengikuti langkah-langkahnya:

Pertama, link-link berikut ini harus dipasang:

Kedua, setelah menuliskan ke 10 bloger tersebut, penerima award berikutnya menghapus blog no 1 hingga blog tersisa 9 kemudian naikkan semua urutan blog dan isi no 10 dengan nama blog (link) milikmu, hingga urutan blog kembali menjadi 10.

Ketika posisi kamu 10, jumlah backlink = 1
Posisi 09, jumlah backlink = 5
Posisi 08, jumlah backlink = 25
Posisi 07, jumlah backlink = 125
Posisi 06, jumlah backlink = 625
Posisi 05, jumlah backlink = 3,125
Posisi 04, jumlah backlink = 15,625
Posisi 03, jumlah backlink = 78,125
Posisi 02, jumlah backlink = 390,625
Posisi 01, jumlah backlink = 1,953,125

Lakukan seperti langkah-langkah di atas dan SEO akan berjalan baik dengan sendirinya.

Dan award ini aku hadiahkan pada.... eng-ing-eng....

1. Maudhy

2. Nisa

3. Mas Rony

4. Dheeny Thea

5. Skylashtar Maryam

Silakan dinikmati.... *emang makanan* :p