Wilujeng Sumping...

Ini blog seorang mida, yang -seperti manusia lainnya- punya banyak kisah dan masalah untuk diceritakan dalam perjalanan hidupnya. Silakan masuk, duduk di mana aja dan baca-baca sesuka hati. Mau teh atau kopi? ^_^
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

06 April 2010

Edisi Jogja: Memanjakan Lidah

Sebagai penikmat makanan yang nggak terlalu rese (asal halal, ga menjijikkan dan bukan ikan air tawar), mencoba makanan atau menu di tempat makan baru merupakan kegiatan yang menyenangkan, apalagi jika ditemani sahabat yang mempunyai kegemaran yang sama. Dan Jogja adalah sebuah kota yang menjadi lahan subur bagi begitu banyak tempat makanan enak dengan harga terjangkau.

Namun, berhubung rencana perjalanan ke kota ini memang telah berantakan dari awal, aku akhirnya tidak terlalu ngotot lagi ingin mencoba tempat makan baru. Tadinya, makan malam di Restoran Bale Raos yang menyediakan menu khusus kesukaan para Sultan Kerajaan Yogyakarta ada di top list-ku. Nyatanya, karena tak membawa kendaraan sendiri dan tak ada teman untuk mencicipi menu di sana, rencana itu gagal. Akhirnya aku menyerah, hanya ingin bersantai dengan 'rasa' yang telah dikenal lidahku sebelumnya. Jadi, inilah tempat makan yang kudatangi selama akhir minggu kemarin.

Nanamia Pizzeria


Berhubung aku baru sampai di Jogja pas Maghrib, lalu mengobrol ngalor-ngidul dengan si Botak yang udah lama ga ketemu, kami baru keluar untuk makan malam jam 20.30 WIB. Lalu lintas masih ramai dengan turis yang tumpah ruah di jalanan. Karena bingung memutuskan tempat makan, si Botak akhirnya mengajakku ke Mal Galleria. Di mal itu ada tempat makan favorit kami waktu kuliah: Bee's. Restoran ini merupakan 'fast food' untuk masakan-masakan Asia, mulai dari Malaysia, Thailand hingga India. Harganya antara belasan hingga puluhan ribu, masih setara lah dengan McD. Well, dengan harga segitu, jangan harap bumbu asli negara asalnya bakal terasa :) Tapi lumayan enak, koq. Yang kurang kusuka, ada beberapa menu yang masih disajikan di kotak styrofoam, selain ga go green *haiyah*, rasanya kurang mantap aja. Masa sih, makan di warung aja pake piring, di sana cuma pake styrofoam? :D Ternyata, menu yang tersedia tinggal Gold dan Platinum Box (semacam paket hematnya). Si Botak menggeleng, jadi kami keluar dari sana.

"WS aja," kata si Botak. WS itu singkatan Warung Steak yang udah terkenal di seantero Jogja sebagai tempat makan berbagai macam steak dengan harga mahasiswa. Aku ngikut aja, deh. Eh, baru menginjakkan kaki di pintu masuk, si Mas waiter-nya langsung mendekat dan memberitahukan menu di sana sudah habis. Uah, memble deh....

"Nanamia aja, yuk!" Ajakku pas di parkiran. Mumpung tempatnya dekat dari situ. Kami akhirnya meluncur ke Jl. Moses Gatotkaca yang terletak di sebelah Jogjakarta Plaza Hotel (awal aku kuliah namanya Hotel Radisson). Di dalam restoran masih ramai dengan bule-bule yang lagi asik kongkow-kongkow sambil minum bir.

Tempat makan ini relatif baru. Meskipun banyak bule berkunjung ke sini, jangan bayangkan tempatnya luas dan mewah. Ukuran restonya kecil dengan kursi dan meja sederhana terbuat dari kayu. Desainnya hangat dan homy banget. Alunan musik yang upbeat seperti Samba selalu mengiringi gelak tawa pengunjung.

Yang istimewa di sini memang makanannya. Berbeda dengan Pizza Hut, pizza di sini benar-benar dibuat ala Italia dengan roti yang tipis-renyah dan guyuran saus dengan rempah-rempah seperti oregano dan basil yang cukup kuat plus keju mozarella yang hmmm.... Dipanggang di tungku besar dengan bahan bakar kayu. Pelayannya -meskipun tidak full senyum- tapi sangat sigap. Saat hendak memesan, si Mas pelayan bilang pizza-nya sudah habis, tinggal tersisa pasta Lasagna. Si Botak protes karena Lasagna yang biasanya cuma seukuran 15x15 cm itu ga bakal membuatnya kenyang. Tapi aku udah capek banget jadi kubilang aja abis dari sini dia beli nasi goreng lagi buat dimakan di rumah, hehe....

Kalo mau ngintip menunya ada di sini. Jangan khawatir, harganya hampir sama koq dengan Pizza Hut atau Papa Ron's.

RM Padang Murah Meriah

Apa istimewanya rumah makan yang satu ini? Jawabnya: nggak ada, hahaha.... Ini tempat makan yang sering kukunjungi di sela-sela kuliah dulu karena letaknya di dekat kosku, di belakang pasar Condong Catur. Kangen aja sama tempat satu ini.

Seperti hampir semua RM Padang lainnya di Jogja, bumbunya tidak terlalu asin dan pekat atau kental, sudah bercampur citarasa Jawa yang agak manis. Tapi, setelah mencoba-coba di tempat lain, di tempat ini bagiku rasanya pas banget, jadi aku selalu datang lagi ke sini. Tempatnya terang, bersih dan pelayanannya cepat. Harganya jelas murah meriah dunk. Satu porsi nasi+ayam+sayur+sambal ga lebih dari Rp 6.000,00. Sayang, mereka ga sedia sate Padang T_T.

Rumah Coklat

Cafe di Jl. Cik Di Tiro ini sudah membuatku penasaran sejak dulu. Pernah aku dan Een ngebela-belain menyisihkan uang kiriman bulanan biar bisa makan di cafe yang kayanya tempat kongkow para mahasiswa tajir ini. Pas nyampe sana, ternyata tutup karena lagi direnovasi. Asemmm!!! Hahaha... (Inget, ga, En?).

Sebelum pulang ke Cirebon, aku dan Icha menyempatkan diri mampir ke sini. Dari luar aja udah kelihatan tempatnya cukup eksklusif, tapi harganya ternyata ga semahal yang kukira dulu, masih murah di sini dibanding setarbak mah :). Karena dilengkapi hot spot, beberapa muda-mudi asik berselancar dengan laptop masing-masing di sofa-sofa empuk ala lounge. Memang asik kalo ngenet gratis ditemani cemilan dari coklat plus secangkir cappuccino, hmmm....

Menu yang ditawarkan ternyata tak hanya seputar coklat. Seingatku memang tidak ada nasi, tapi ada beberapa pilihan pasta seperti fettuccini carbonara (bisa pilih tuna/sapi) dan camilan agak berat, seperti mayo chicken stick (sekilas mirip nugget dilengkapi saus mayonaise), french fries, croissant dan... apalagi ya? Banyak juga, sih....

Karena aku memang lagi pengen ngemil, aku memesan mix cake dan secangkir hot caramel coffee. Tapi, dipikir-pikir, karena takut kelaparan di perjalanan pulang ke Cirebon, aku juga memesan mini butter croissant. Mix cake itu sepotong cake yang bisa dipilih di counter ditambah satu scoop es krim vanila, ditaburi chocochips dan dihias sepotong biskuit oreo. Karena pelayannya bilang mix cake favorit di situ adalah Mediterranean, aku mengikuti sarannya. Sementara Icha memesan Lasagna dan minuman Cold Choco Royale (coklat dingin yang rasanya coklat banget!)

Saat pesanan datang, aku sumringah melihat lapisan cake dan krim coklat berselang-seling yang ditata cantik dengan hiasan cherry dan kepingan dark chocolate yang dibentuk abstrak berdiri di atas krim putih. Rasanya ga akan mengecewakan penggemar coklat, deh.... Tapi....

Kuenya mirip-mirip gini, deh (piringnya juga mirip, hehe...)

"Ini rasa apa ya? Kismis?" Tanya Icha saat dia mencicipi cake itu.

"Kismis?" Tanyaku bingung karena memang tak menemukan butiran kismis di manapun.

"Ini, agak asam gimana gitu...," katanya sambil mengunyah dan berpikir, "kayak rhum?"

Hah? Aku ikut menyendok lagi dan mulai memperhatikan rasa asing tapi wanginya cukup familiar itu. Soalnya, beberapa kali aku menemukan wangi yang sama di vla di dalam kue sus atau vla puding untuk menghilangkan bau amis kuning telur. Aku sepakat dengan Icha, itu rhum.

Saat pelayan datang mengantarkan lasagna, aku bertanya padanya, "Mbak, maaf, aku boleh nanya, ya? Cake-nya dikasih rhum, ya?" Si Mbak meng-iya-kan. "Alkohol?" Tanyaku lagi.

"Iya. Tapi, kan alkohol buat makanan, Mbak," katanya.

Teteup aja aku ga bisa makan, sesedikit apapun alkohol dari rhum ya haram. Icha udah nahan ketawa melihat wajahku yang langsung kecewa karena terpaksa bilang bubbye sama cake nan lezat menggoda itu. Kenapa harus pake alkohol, sih? Gerutuku sebal. Aku akhirnya hanya menghabiskan es krim-nya. Untung masih ada mini butter croissant (yang ternyata bentuknya ga mini :p) dihias lelehan coklat di atasnya. Kopinya juga enak, bukan kopi instan. Lasagna-nya masih lebih berbumbu yang di Nanamia, tapi enak juga, sayang pas disajikan udah agak dingin.

Pas bayar di kasir, aku melirik sebal ke arah counter yang berisi berbagai macam cake menawan tapi ga bisa dimakan itu, hiks.... Karena penasaran, aku tanya lagi sama kasirnya, "semua cake di sini pake rhum, ya, Mas?"

"Iya, Mbak," jawabnya ramah.

"Tetep aja aku ga bisa makan," kataku rada manyun.

"Kan rhum yang buat makanan, Mbak."

"Alkohol apa essens?" Tanyaku lagi.

"Essens," jawabnya senyum. Hiiiih.... makin sebel lah dirikyu. Kalo essens kan insya Allah halal. Teringat lagi potongan besar cake yang tadi kucuekin.

"Mbak-nya nggak nanya, sih...," kata Mas di kasir lagi, kali ini sambil nyengir.

Hwah.... Laen kali aku mau pesan yang lain aja lah, biar ga ragu-ragu :)

22 Januari 2010

Obsesi Terbaru (Ga Dosa, Kan?)

Awalnya, perasaanku masih biasa-biasa aja. Iya, sih, ada rasa suka melihatnya yang begitu indah namun tak pernah sanggup kumiliki. Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu datang menggoda pikiranku. Seakan ia memanggil-manggil, bahwa ia kini bersedia untuk menemaniku, menebus kesombongannya di masa-masa dahulu saat aku hanya mampu menatapnya tak berdaya, sebelum Mama menarikku menjauh dan memaksaku melupakannya.

Dialah Barbara Millicent Roberts alias BARBIE! Heuheu.... :D

Terlepas dari pro kontra tentang pengaruh negatif boneka cantik ini terhadap anak-anak, aku memiliki sudut pandang tersendiri tentang Barbie. Bagiku, ia merupakan sebuah karya indah, hasil kreativitas para pembuatnya, Harold Mattson serta pasangan suami istri Ruth & Elliot Handler (perusahaan Mattel yang memproduksi Barbie berasal dari singkatan nama MATTson dan ELliot). Maksudku, liat, deh, keindahannya yang dibuat detail banget. Dari mulai gaya rambut, warna lipstik, baju, aksesoris, sepatu. Butuh kerja keras dan kreativitas tinggi untuk menciptakan mainan secantik itu. Dan selain faktor keindahan, aku juga membutuhkan Barbie sebagai seorang teman curhat.

Haaa??? Serius lo, Mid???

Hehe.... Tenang... tenang... Aku masih normal koq, alhamdulillah. Mbak Mut2 sampe nanya, apa belom cukup semua teman dan blog yang kumiliki untuk dijadikan tempat curhat? Hmm.... Gini, deh... Aku sangat sangat berterima kasih dan bersyukur atas keberadaan semua keluarga dan teman yang kumiliki. Tapi, dalam keadaan tertentu, aku benar-benar ingin bicara sesuka hati tanpa harus membuat teman bicaraku jadi bosan atau bete. Kalian kan tidak bisa stand by untukku sepanjang waktu 24 jam? Nah, boneka ini bisa.... Tadinya terpikir olehku untuk membeli boneka kucing (boneka kucing kembarku ketinggalan di Jogja, hiks....). Tapi, aku membutuhkan girls talk. Jadi, lebih cocok kalo aku 'ngobrol' (lebih tepat disebut monolog, sebenarnya, ya, hihihi...) dengan cewek daripada dengan kucing. Maka, pilihanku jatuh pada si cantik ini.

Membeli boneka Barbie asli menjadi salah satu resolusi tahun ini. Yup, harus yang asli! Mungkin bagi yang lain rasanya ga penting. Itu relatif, sih. Alasanku adalah mimpi. Mimpi masa kecil. Dan insya Allah tahun ini aku merasa sanggup mewujudkannya (meskipun harus jungkir balik dulu ngumpulin uangnya - maklum cuma tukang sablon ^_^). Ada memang seri Barbie yang dijual di Indomaret dengan harga di bawah seratus ribu, tapi terlalu biasa *belagu.com*.

Maka, aku berselancar ke sana kemari. Seri Barbie Dolls of the World bikin aku terpesona. Liat, deh seri Cina, Korea dan Rusia ini:




Gemesin banget! Harganya berkisar dari US$ 30 hingga US$ 125. Masih ada seri yang lain, bahkan ada seri Sumatra Indonesia yang memakai gaun biru selutut terbuat dari sejenis kain songket kecil lengkap dengan hiasan kepalanya (tapi wajahnya kurang meng-Indonesia, ya, hehe...)


Aku kembali mengubek-ubek dunia boneka dengan bantuan Mbah Google. Seri yang membuatku kembali terpesona adalah Barbie yang mengenakan gaun-gaun rancangan desainer ternama. Dan aku memutuskan, inilah Barbie yang akan kuperjuangkan (halah!!!):
Barbie ini dibalut gaun Vera Wang. THE Vera Wang. Setiap gadis Amerika sepertinya bermimpi untuk menikah dalam gaun rancangannya. Dan yang aku suka, saat diwawancara Oprah, tampilannya bersahaja tapi begitu elegan. Kalo aja dia mau ngerancang baju pengantin muslim ya.... *ngayal*. Mau aja kali, kalo ongkosnya cocok, hehehe.... Ah, kembali ke boneka ini. Again, the details! Sebagai seorang yang cenderung perfeksionis, aku suka banget melihat hasil karya yang dibuat begitu baik hingga ke detailnya. Brokatnya, renda dan pita yang sesuai skala, terlihat anggun, mewah, tapi tidak berlebihan. Meskipun tipe tubuhku yang bulat jelas ga akan cocok memakai model mermaid begini, hehehe.... (lagipula kan terbuka atasnya).

Lalu... lalu... Aku berpikir, alangkah cantiknya kalo ada Barbie dalam balutan baju pengantin muslim atau yang berkebaya. Voila! Sampailah aku di Arrosa....

Tapi yang lebih heboh, aku menemukan rancangan kebaya Barbie yang cantik-cantik di Link Barby. Awesome!!!



Hmm... dengan obsesi seperti ini, kurasa aku harus lebih banyak berinfak. Ga lucu kan, aku beli mainan semahal itu, tapi ada tetangga yang masih kelaparan.... Ah, dilema....

Koleksi Arrosa: http://www.arrosa.net/
Koleksi Barbie lengkap: http://www.angelicdreamz.com/
Koleksi Barbie dan kebaya Barbie: http://www.linkbarby.com/
Koleksi baju dan aksesoris Barbie murah: http://jualbarbie.blogspot.com/
Koleksi baju dan aksesoris Barbie murah: http://www.infinity-gift.com/
Koleksi baju rajutan Barbie: http//moms-idea.blogspot.com/

15 Januari 2010

Sekelumit Malam

Di tempatku berpijak, hanya ada rerumputan kering dan semak-semak liar. Di sini malam terasa dingin dan gelap. Detik yang berlalu hanya diisi keheningan. Sementara jauh di seberang, cahaya kota berkelap-kelip penuh kehangatan. Pantulan warnanya begitu memesona di permukaan laut yang tenang. Seakan ia terbuat dari kaca yang menyerap semua bayangan keindahan malam.

Berdiri di sini, menikmati setiap siluet pernak-pernik kota yang terekam dalam pemandangan di seberangku, hanya ditemani angin yang bergerak-gerak gelisah. Aku bisa melihat cahaya lampu-lampu malam itu berpendar jelita. Tapi cahaya itu tak bisa meraihku. Ia bagai mimpi yang tak nyata. Di sini, aku yang beku hanya terbiasa berbincang dengan tuan api yang semangatnya selalu bergelora. Bertukar kata dalam diam, berbagi cerita hingga fajar tiba.

09 Juni 2009

Nightmares in Bali

Satu hal yang teramat dirindukan selama di Bali adalah suara adzan. Syukurlah ada manusia bumi yang berinisiatif memasukkan fasilitas alarm ke dalam HP, hingga aku bisa bangun pagi meskipun sedang 'libur'. Mulanya agak-agak kehilangan orientasi gara-gara perbedaan waktu satu jam lebih cepat, tapi lama-lama terbiasa juga.

Sarapan pertama di hotel, aku bertanya bisik-bisik pada karyawan di situ apakah daging yang digunakan daging sapi? Dia tersenyum dan mengatakan bahwa masakan itu dari daging sapi dan dirinya juga muslim hingga aku tak usah khawatir dengan masakan di sana. Btw roti lilitnya enak banget... apa ya namanya? Diolesin salted butter, yummm... ^_^

Selesai sarapan, kami bertemu pihak Hotel Patra untuk mem-fix-kan beberapa hal (boring deh...). Kami juga memesan mobil sewaan untuk menjemput para bos di bandara. Begitu para pejabat itu datang, ternyata mobilnya jadi penuh dengan barang-barang bawaan mereka. Terpaksalah Mbak Muti dan Vira naik taksi, sementara aku terjebak sendiri di dalam mobil yang mengantar para bos ke hotel. Hwah, mati gaya, deh... Setelah berputar-putar ke Hard Rock lalu Aston, bosku yang sudah kupesankan kamar di Hotel Kartika Discovery malah langsung ke Hotel Patra untuk mengecek persiapan ruangan. Yah, dan mimpi buruk pun dimulai....

Pertama aku ditegur karena backdrop yang diantar ternyata dilipat, bukan digulung, hingga bos memaksa untuk menyetrika backdrop segede gaban itu agar terlihat rapi (akhirnya dipesan lagi backdrop yang lebih bagus dengan harga 3,5 juta di percetakan lain... Ye... salah sendiri, aku ga tau apa-apa soal percetakan di Bali mendadak dangdut disuruh pesen dari Cirebon, ketemu di internet yang harganya hampir sama dengan percetakan disini ya langsung pesen aja daripada telat). Udah gitu, aku ditegur lagi karena buklet workshop yang dibawa dari Cirebon ternyata potongannya ga rapi dan kurang kertas kosong. Aku kemudian ditugaskan mencari percetakan yang bisa membongkar semua buklet dan menjilid ulang dalam waktu semalam.

Diantar Bli Ketut Wira, aku mencari percetakan yang masih buka menjelang maghrib. Tiap nemu tanda percetakan langsung berhenti dan harus kecewa karena rata-rata percetakan di sana tutup jam 5 sore. Ada yang masih buka, ga punya alat buat ngejilid pake ring kawat. Setelah berputar-putar, ketemu tempat penjilidan yang masih buka di Denpasar. Mereka mematok harga dua kali lipat tambah uang lembur karena diperkirakan buklet selesai tengah malam. Karena pusing, aku menyanggupi.

Ketika kembali ke hotel, aku kembali ditegur bos karena harusnya aku menunggu hingga mereka menyelesaikan satu buklet sebagai contoh. Gila... Udah gitu aku lupa kalo kamar yang dipesankan untuk bos harusnya dikonfirmasi sebelum jam enam sore, kalo nggak, reservasinya bakal dihapus (secara harga kamar per malamnya setara gajiku sebulan). Mati... mati...! Dengan panik luar biasa, aku menelpon hotel Kartika yang ternyata bagian reservasinya udah tutup. Ketika tersambung dengan bagian resepsionis, bicaraku udah ga karu-karuan. Untunglah dia bilang kamarnya masih available... Alhamdulillah.... Kalo nggak, besoknya aku jadi pengangguran gara-gara bos ga dapet kamar. Fiuhhh....

Selesai dengan urusan hotel untuk bos, aku kembali diantar oleh Bli Ketut ke tempat percetakan. Karena bos tak ingin pemotongan kertas dilakukan dengan cutter manual, aku minta mereka mengerjakan ulang pembongkaran buklet agar bisa dipotong dengan mesin potong (yang ternyata masih manual juga). Menunggu hasilnya, Bli Ketut mengajakku makan di sebuah warung Jawa Timur yang ayam gorengnya enak banget. Sepanjang jalan aku dan dia jadi curhat-curhatan. Untunglah dia menghiburku hingga aku masih bisa ketawa-ketawa meskipun kepalaku rasanya udah penuh api dan asap (halah...).

Selesai makan, kami kembali ke tempat percetakan dan menunggu hingga buklet selesai. Lewat tengah malam, ketika seluruh buklet selesai dijilid ulang, kami langsung menuju Jimbaran untuk menempel stiker sponsor di bagian covernya. Aku mendapat sms bahwa bos ingin melihat buklet yang telah selesai. Busetttt....! Jam setengah tiga aku ke Hotel Kartika, cenga-cengo karena hotel udah sepi, tinggal beberapa bule masih kongkow-kongkow di lobby. Tengsin berat, aku menanyakan nomor kamar bosku ke resepsionis. Ampyun deh... disangka aku cewek panggilan kali ya, dateng jam segitu nanyain kamar bos...

Buklet s**lan itu jadinya masih amburadul karena pisau mesin potongnya tumpul. Bos melihat hasilnya dengan kecewa tapi tetap berterima kasih padaku (entah untuk apa). Jam tiga pagi aku kembali ke Hotel Patra dan menemukan Vira serta Putri tertidur di ruang Klungkung. Mas Santoso, yang membawa mobil dari Cirebon berisi barang-barang keperluan sekretariat tiba tak lama kemudian. Baru jam empat pagi kami pulang bersama-sama ke Palm Beach.

Bayangin, deh, harusnya sebelum jam delapan kami sudah stay tune di tempat workshop. Begitulah, kami semua bangun kesiangan.... Dan sepanjang hari itu (juga hari-hari berikutnya) semua berjalan kacau... Ada banyak kemarahan, emosi, stres, saling menyalahkan, kesalahpahaman... Hingga di hari terakhir workshop aku menyempatkan diri lari ke toilet buat nangis saking ga tahan lagi dengan semua kekacauan ini (cengeng, deh...). Acaranya terlalu dipaksakan dan anggotanya belum kompak, sementara para bos menginginkan perfection (not only excellence) hingga ke tiap detailnya (well, every boss acts like it, right?).

Sampai-sampai Pak Umar, driver dari kantor Cirebon yang sering mengantarku keluar-masuk percetakan, menghiburku dengan kata-kata bijaknya melihatku menahan amarah dan tangis begitu. Lillaahi ta'ala, katanya, pasti ada hikmah yang bisa diambil dari semua kejadian ini. Begitu pula Mama yang menghiburku lewat telepon. Alhamdulillah aku masih memiliki orang-orang tercinta di sekitarku.

Hari Sabtunya, karena semua workshop udah selesai, aku dan Mbak Mutia memutuskan memanjakan diri seharian. Tawaran bos untuk ikut rafting di Telagawaja kami tolak dengan mantap. Kami bangun siang, berfoto-foto di pantai, pergi membeli oleh-oleh ke Pasar Sukowati (naik taksi sampe kantong jebol), berdesak-desakan di Joger dan makan malam di mall Discovery. Seumur hidup baru kali ini, deh, nemu mall yang pintu belakangnya langsung ke pantai yang indah banget!

Ah sayang, besok paginya kami sudah berlari-lari di bandara kayak orang gila gara-gara telat check in, hampir ketinggalan pesawat. Udah gitu, cuaca buruk bikin pesawat goyang terus sampe Mbak Muti ga henti-hentinya komat-kamit berdzikir. Sampai di Cengkareng langsung carter mobil APV menuju stasiun Gambir. Berangkat setelah makan siang, kereta Cirebon Express yang kami tumpangi tiba di Cirebon sekitar pk. 16.30 WIB. Di dalam mobil menuju kantor, kami semua hanya bisa tertawa dengan penampilan kami yang kusut banget. Orang lain kalo pulang dari Bali bawaannya keren dan cerah ceria. Sementara kami pulang dengan wajah stres, kurang tidur dan sakit hati karena hampir seminggu berada di romantisme Bali tanpa pasangan.

Ah, Bali... Lain kali aku akan mengunjungimu dengan membawa cinta yang banyak, insya Allah... ^_^

Bali Blues

Tanggal 31 Mei, hujan turun dengan derasnya menjelang dini hari. Mataku kayak dilem, susah banget ngebukanya... padahal aku udah janji mau pergi ke kantor sebelum tengah malam gara-gara persiapan workshop gila itu (benci, deh, kalo mengingat pekerjaan yang dilakukan tanpa persiapan dan koordinasi yang cukup begitu). Akhirnya aku terjaga sekitar pukul 02.30, mengumpulkan nyawa lalu mandi dan membangunkan seseorang lewat telepon untuk sahur. Jam 03.30 baru aku berangkat ke kantor.

Di sana, kutemui wajah-wajah kuyu kurang tidur. Tak banyak yang bisa kulakukan gara-gara printer ngadat, padahal pekerjaanku banyak tergantung pada benda itu. Pukul 05.00 aku kembali ke kos untuk mengambil travel bag. Pukul 05.30, aku, Mbak Mutia dan Putri pun meluncur menuju Jakarta, mampir di kantor pusat di Patra Jasa untuk mengambil beberapa barang lalu ke bandara. Perasaanku campur aduk, antara kesal dan ngeri mengingat banyak pekerjaan yang belum terselesaikan, padahal kami hanya punya waktu satu hari lagi.

Gawatnya, tak ada seorang pun yang ngeh kami dipesankan pesawat apa. Begitu sampai di bandara, dengan terburu-buru kulihat amplop tiket dan muncul logo Lion Air. Tak banyak waktu lagi untuk check in, maka kami segera menuju terminal 1A dan shock melihat antriannya.... Gile... hari Senin begini orang-orang pada mau ke mana, sih?

Setelah antri lama, berpanas-panas ria dan perut keroncongan karena belum makan dari malam sebelumya, ternyataaa.... Mbak di counter Lion Air itu memberitahukan bahwa tiket Lion Air yang kami punya untuk penerbangan Denpasar-Jakarta, bukan sebaliknya. Penerbangan Jakarta-Denpasar ternyata menggunakan Batavia Air. Ah, monyong! Kami jadi berjalan tergesa-gesa menuju terminal 1B. Untunglah di sana tidak ada antrian. Selesai check in, kami langsung membeli donat sebungkus. Baru makan setengah biji, udah boarding. Nasib... Nasib....

Menginjak tanah Bali, koq rasanya biasa aja ya... Padahal ini pertama kalinya aku ke sana, lho! Yang tergambar di pikiranku malah pekerjaan dan pekerjaan. Dijemput oleh Pak Nyoman dan langsung diantar menuju hotel Palm Beach, hotel 'bunga' yang letaknya berdekatan dengan Holiday Inn. Kamar panitia di Hotel Patra Bali harus rela digusur gara-gara peserta workshop banyak yang menginginkan menginap di sana.

Tapi fasilitas kamar tetap oke, sih, menurutku. Ada AC dan bathtub dengan air panas. Cuma chanel TV-nya lokal (ga masalah, toh aku juga jarang nonton TV). Pemandangan ke swimming pool juga lumayan dengan pohon-pohon rindang tumbuh di sekitarnya.

Malam pertama di Bali.... Wkwkwkwk... kesannya...
Yupz, malam yang pertama di Bali ini aku dan Mbak Mutia kebingungan mencari makanan halal. Kami memutuskan berjalan kaki dan akhirnya menemukan rumah makan Padang yang pemiliknya orang Jawa, hehe... Jauh-jauh ke Bali makannya nasi Padang juga....

Acara berikutnya berjalan kaki menuju hotel Patra, melewati jalan setapak dengan lampu-lampu taman di Pantai Segara yang indaaaaaaaaah... banget. Agak menyedihkan, sih, seperti Harun bilang, ke Bali itu harus dengan pasangan. Suasana kafe dengan lampion-lampion dan lilin di pinggir pantai, alunan musik easy listening, kerlipan lampu-lampu di kejauhan, bintang-bintang di langit dan deburan lembut ombak, ya ampyunnnnnnnnn.... romantis banget.... Mana bule-bule itu juga pada berpasang-pasangan lagi.... Bikin ngiri aja...


Setelah mengecek barang-barang yang telah dikirim ke hotel dan mengecek ruangan untuk acara, kami kembali ke hotel Palm Beach. berusaha mengistirahatkan pikiran dan menyongsong esok yang penuh drama karena para big boss empunya acara akan datang menggunakan pesawat siang.

08 Juni 2009

Rafting di Ciberang



Hwaa... Hampir sebulan ini ga ngisi blog... padahal banyak banget yang mau diceritakan....

Cerita yang ini udah agak basi, sih, tapi nggak apa-apa lah... ^_^ Setelah gonta-ganti tanggal, akhirnya diputuskan tanggal 17 Mei 2009 lalu, kami berangkat ke Banten untuk rafting di Sungai Ciberang. Menjelang musim kemarau, grade sungai ini "cuma" 2 sampai 3+. Awalnya aku agak under estimate gitu, soalnya waktu rafting di Sungai Citanduy, Tasikmalaya, yang sungainya lebih dalam dan grade-nya lebih tinggi, pengarungannya kurang seru.

Dengan meminjam mobil kantor, kami berempat (aku, Mbak Mutia, Harun dan Irfan) berangkat dari Cirebon pk. 11.00 WIB, mengambil jalur Indramayu-Cikampek-Jakarta-Banten. Banyaknya perbaikan jalan membuat perjalanan terhambat karena terhadang macet. Kami akhirnya sampai di Jakarta menjelang sore. Menurutku, ibukota terlihat lebih indah kalo malam (ga terlalu sumpek, ga keliatan sampah-sampah dan manusia-manusia diburu waktu dan uang, ai... ai...). Aku sampai berkomentar bahwa aku lebih suka membesarkan anak-anakku kelak di kampung, bukan di kota besar yang sumpek dan materialistis seperti Jakarta. Biar dia masih bisa bermain di sawah, melihat kerbau dan malamnya mengaji di musala (yang langsung diketawain Harun dan Mbak Muti). Ye... namanya juga pendapat, boleh dunk... ^_^

Setelah keluar-masuk pintu tol, kami keluar dari tol Balaraja Timur menuju Takara Golf-Tenjo-Jasinga-Cipanas. Meeting point disepakati di basecamp Banten Rafting. Dari Cipanas ke meeting point, kami melewati pesantren modern La Tansa yang luasnya berhektar-hektar dan terletak di lembah sehingga mudah terlihat dari jalan, wuiiii.... Kayaknya asik juga tuh mondok di situ, asal kuat aja menahan keinginan ke mall atau bioskop XXI, hehe...

Kami tiba sekitar waktu Isya. Langsung disuguhi ubi rebus dan teh panas di saung-saung yang ada di basecamp. Dilanjutkan dengan makan malam ala Sunda (termasuk sambal dan karedok, nikmat banget!!!). Selesai makan, kami berendam di kolam Cipanas. Eh, lagi asik menikmati suasana Cipanas malah mati lampu, hahaha... Kasian yang lagi pada berendam. Tapi taburan gemintang di langit jadi terlihat jelas... Indahnyaaaaaaaa.... ^_^

Udah kenyang, udah berendam air panas, tinggal kantuk yang tersisa. Kami tidur di lantai atas rumah kayu milik Banten Rafting. Bergelimpangan begitu saja di lantai kayu, padahal dini hari udaranya dingin sampai kita menggigil... Tapi mata udah ga kuat melek lagi, hehe...

Minggu pagi... Rencananya, sih, kita mau jalan ke air terjun sambil menunggu rombongan dari Jakarta. Taunya, rencana tinggal rencana... Selesai sarapan, para cowok malah pada merem lagi... Jadilah aku sama Mbak Muti turun ke pinggiran sungai terus jadi banci tampil alias foto-foto, hihihihi... dasar centil! ^_^


Rombongan dari Jakarta baru sampai ke meeting point sekitar pukul sepuluh. Saat pemanasan, hujan turun tanpa diduga. Tapi ternyata Tuhan berbaik hati, begitu selesai pemanasan dan kami siap 'terjun' ke sungai, hujan berhenti dan cuaca menjadi cerah kembali, alhamdulillah...

Tak seperti Sungai Cimanuk Garut dan Citanduy Tasik yang airnya berwarna coklat, Sungai Ciberang terlihat jernih. Meskipun grade-nya rendah, ternyata jeram-jeramnya asik buat dilalui. Skipper-nya juga banyak yang iseng. Instruksi-instruksi yang diberikan malah sengaja membuat perahu kami menabrak batu, saling bertabrakan dengan perahu lain atau bahkan membalikkan perahu hingga semua rafter tercebur ke sungai. Saat games, aku juga sempat panik saat terjatuh dari perahu. Untungnya Harun yang sama-sama terjatuh mengingatkanku untuk tetap tenang dan mengingatkan posisi tubuh yang aman agar aku bisa terapung dengan life jacket yang kupakai, hehe... Jadi malu.... Soalnya ternyata sungainya lebih dalam dari yang kukira.

Setelah beristirahat menikmati kelapa muda dan games di tengah sungai, kami bersiap-siap melalui jeram yang tingginya lebih dari semeter, wuiii... deg-degan, deh! Tangan udah memegang tali perahu erat-erat, kaki udah berusaha rileks biar ga keseleo... begitu sampai di jeram langsung teriak sekenceng-kencengnya! Seruuu...! Tapi Indira yang duduk di sebelahku ternyata gusinya berdarah-darah gara-gara dia salah pegangan tali perahu. Waktu di jeram dia terdorong ke depan dan menabrak Harun. Alhasil, dua orang itu meringis kesakitan dan kita malah tertawa-tawa... abisnya gigi Indira sempat menancap di pundak belakang Harun, kayak drakula aja, hahaha....

Selesai rafting, kita 'rafting' di jalan. Sama ngerinya. Kita diangkut pake mobil bak terbuka, melewati jalanan rusak dan sempit sementara di kanan jalan banyak jurang menganga. Di sebuah tanjakan, mobilnya malah sempat mundur lagi karena ga kuat. Alhamdulillah selamat sampai di meeting point lagi hehe... Kalo nggak, aku ga bisa ngeblog lagi dunk... ^_^

Habis berendam (lagi) di Cipanas, rombongan kembali berpisah. Sampe di Cirebon jam 11 malam... Sialnya kosku udah dikunci pintu masuknya. Duh... duh... kesel banget, deh... Udah capek, kekunci di luar, nelpon temen kosku juga ga diangkat-angkat. Untungnya, setelah bertanya sana-sini, aku mendapat nomor mas Slamet yang jaga kos. Pfff... akhirnya bisa tidur di kamar... lumayan bisa tidur beberapa jam sebelum masuk kerja lagi jam 7 paginya... ^_^

11 Mei 2009

Inilah Jalan yang Kupilih!

Banyak yang bingung dengan jalan pikiranku, beberapa mengatakan mereka tak bisa memahamiku. Padahal, begitu sederhana sebenarnya. Hidup hanya sekali, jika kita menjalaninya dengan sebuah keterpaksaan, tak sesuai kata hati, kita tak akan memiliki kesempatan untuk mengulang hidup dari awal lagi. Ya, kadang kita memang perlu berkompromi dan melakukan sesuatu yang tak sesuai keinginan demi kebaikan yang lebih besar, tapi ada kalanya kita harus bertindak ekstrim untuk meraih yang dicita-citakan. Dan cita-citaku mudah saja: aku ingin bahagia dengan caraku.

Itulah yang mendorongku meninggalkan kuliahku di sebuah perguruan tinggi yang (mungkin) merupakan Institut Terbaik Bangsa. Aku telah berusaha menjalaninya selama tiga tahun dan selama itu pula aku tertekan. Mulanya, seperti banyak remaja sekolah lainnya, aku kadang memang masih plin-plan menentukan pilihan. Ingin menjadi sinematografer (karena keliatannya keren :p), desainer interior, dokter hewan, hehe... namun tak sekalipun terbersit keinginan menjadi engineer. Ketika mengatakan keinginanku untuk sekolah sinematografi di Jakarta, orang tuaku keberatan dengan biayanya yang, untuk ukuran keluarga pas-pasan seperti kami (pas butuh pas ada, hehe...), teramat mahal.

Akhirnya aku disarankan masuk perguruan tinggi negeri yang biayanya lebih murah (zaman angkatanku, biayanya masih di bawah Rp 500.000,00/semester!). Dengan memilih jurusan yang tidak banyak saingan (satu-satunya PTN yang memiliki jurusan itu hanya ada di Bandung) dan kesempatan mendulang dollar jika diterima bekerja di perusahaan asing, aku bisa sekolah lagi di sekolah manapun dengan uangku sendiri.

Itulah kesalahan pertama yang kubuat. Aku kuliah disana tidak dengan niat untuk meraih ilmu dan mengamalkannya. Aku hanya melihat iming-iming materi yang bisa kuperoleh jika aku lulus dari sana. Akhirnya, aku jadi merasa terjebak dalam ironi. Untuk pertama kalinya, aku takut menjadi kaya. Aku banyak menemukan orang-orang yang sukses secara materi menjadi kurang sensitif dengan kehidupan 'kelas bawah', betapa orang-orang kaya semakin sibuk dengan kekayaannya, semakin tak mengenal kaum miskin yang sebagian rezekinya dititipkan pada mereka. Betapa mereka memiliki rumah indah, anak-anak yang lucu, tapi banyak ditinggalkan demi tuntutan pekerjaan. Apa yang sebenarnya mereka kejar dengan gaji setinggi itu?

Hal ini diperparah dengan minatku yang lebih cenderung ke arah seni (meskipun tidak berbakat ya, tolong dicatat :p) dan benci setengah mati pada Fisika. Dosen-dosenku mungkin heran, soalnya pas ujian, kadang aku tak mengerjakan jawabannya, malah sibuk menggambar kucing, hihihi.... Aku masih bisa menikmati Matematika, tapi merasa nggak punya urusan dengan Bernoulli, Darcy, atau tetek bengek sumur pemboran :D

Harus kutekankan, aku tidak mengatakan bahwa semua yang kudapatkan di sana itu buruk. Sama sekali tidak. Aku bisa bertahan kuliah di sana selama tiga tahun karena aku memiliki teman-teman yang teramat baik (love them so much!) dan lingkungan yang menyenangkan. Hanya saja, aku merasa itu bukan jalanku. Sepertinya, aku salah belok jadi harus memutar untuk mendekati tujuanku. Masalahnya, tujuanku apa, sih?

Setelah banyak berpikir (dengan IQ jongkokku, hehe...), aku menyimpulkan bahwa aku paling senang dengan kreativitas menggambar dan menulis. Jadi, aku mulai mengintip-intip jurusan yang berkaitan dengan itu. Untuk ikut SPMB, umurku sudah expired :'( Untuk masuk ke jurusan seni, tidak cukup berbakat. Untuk masuk ke PTS bergengsi, tak kuat biayanya. Akhirnya aku menemukan sekolah (yang sekarang jadi almamaterku ^_^) di Jogja. Dengan biaya relatif terjangkau, biaya hidup lebih murah dan yang paling penting, konsentrasi kuliahnya adalah desain grafis dan multimedia periklanan.

Jadi, begitulah. Dengan 'menutup kuping' dan meneguhkan diri menerima semua resikonya, aku meninggalkan kampus megah bereputasi tinggi menuju sebuah kampus tak dikenal di Kabupaten Sleman (hihihi.... maaph kalo perbandingannya terlalu merendahkan... *peace*).

Dan inilah lucunya (sampai-sampai Jeng Yaroh menertawakanku dengan puas), ujung-ujungnya aku mendarat dan bekerja di sebuah tempat ber-'minyak', bertemu dengan senior-senior dan teman-teman kampusku yang dulu, tapi yang kukerjakan seputar grafis, ikut mengelola content web dan menulis di blog. So weird how destiny had brought me here, but so grateful for that ^_^

Kejadian-kejadian itu membuatku lebih memahami dan mudah menerima saat seseorang menentukan pilihan yang tidak sesuai dengan harapan banyak orang. Gelar sarjana tapi hanya jadi ibu rumah tangga, why not? Profesi seorang ibu adalah yang paling rumit sekaligus mulia. Lulus dari kampus terkenal tapi memilih menjadi aktivis mesjid, kenapa harus dicibir? Setiap orang punya hak untuk berbahagia dengan pilihannya, selama pilihan itu tidak menyalahi aturan. Toh, dalam Islam, yang paling penting adalah sejauh mana seseorang itu bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya, bukan sehebat apa jabatan dan kekayaannya. Betul? ^_^

04 Mei 2009

You're the Result of Yourself

by Pablo Neruda

Don't blame anyone, never complain of anyone or anything

Because basically you have made of your life what you wanted.

Accept the difficulties of edifying yourself

And the worth of starting to correct your character.

The triumph of the true man arises from the ashes of his mistakes.

Never complain of your loneliness or your luck.

Face it with courage and accept it.

Somehow, they are the result of your acts and

It shows that you'll always win.

Don't feel frustrated of your own failures, neither unload them to someone else.

Accept yourself now or you'll go on justifying yourself like a child.

Remember that any time is good to start

And that no time is so good to give up.

Don't forget that the cause of your present is your past,

As the cause of your future will be your present.

Learn from the brave, from the strong,

From who doesn't accept situations

From who will live in spite of everything.

Think less of your problems and more of your work.

Learn to arise from your pain,

And to be greater than the greatest of your obstacles.

Look at the mirror of yourself and you'll be free and strong

And you'll stop being a puppet of circumstances.

For you yourself are your destiny.

Wake up and stare at the sun in the mornings and breathe the sun of dawn.

You're part of the strength of your life now,

Rise up, fight, walk, be sure and you'll win in life.

Don't ever think of 'fate'

For fate is the excuse of failures.

02 Februari 2009

Heuheu... Dasar Jodoh!

"Ucan, kalo mau jalan-jalan, aku ikut yaa...," rayuku pada Jeng Ucan Jum'at sore itu. Heuheu... dasar ga mau bermodal! Maunya nebeng aja biar gratisan.

"Okeh, tapi kalo ga ada sms, berarti emang ga pergi kemana-mana," jawabnya. Aku mengangguk. Dia emang suka males keluar rumah kalo lagi libur. Pengennya istirahat aja sambil maen-maen sama Eilen-nya yang lucu itu ^_^

Maka, saat Sabtu sore tak ada sms dari Jeng Ucan, aku memutuskan pergi sendiri naik angkot. Harus ke atm sekaligus pengen ke Gramedia, cari novel yang ringan semacam chicklit (lagi males baca yang 'berat' setelah minggu lalu selesai baca To Kill A Mockingbird. Btw, it's a must-read novel!). Karena Mbak Mutmut bilang satu-satunya Gramedia di Cirebon adanya di Grage, aku memutuskan pergi ke mal itu.

Pas di angkot, supirnya nanya, "Mau turun di mana, Mbak?"

"Asia!" Jawabku spontan. Lho? Monyong...! Aku kan mau ke Grage, ngapain jawab Asia? Kan jauh banget! Karena tengsin mau ngeralat jawaban, akhirnya aku hanya pasrah saat angkot menepi di depan Toserba Asia. Tapi semangatku bangkit lagi *halah* saat melihat tulisan Toko Buku Kurnia Agung terpampang segede gajah di gedung Toserba Yogya. Bagus lah, jadi aku tetep bisa cari buku di sini.

Setelah selesai dengan urusan atm, aku naik ke lantai atas. Tapi setelah keliling-keliling, koq toko bukunya ga ketemu, ya? Aku mengintip lantai atas lagi, yang ternyata restoran seafood Marina. Jadi, toko bukunya di mana, dunk? Akhirnya aku bertanya pada salah satu karyawan, dan ternyata.... di situ emang ga ada toko buku. Toko buku itu baru pindah ke PGC akhir Januari ini.

Dengan rada gondok, aku terpaksa berjalan kaki menuju PGC. Untung letaknya masih di daerah itu dan FYI, aku ga pernah pergi ke gedung ini sebelumnya. Ternyata mirip-mirip Pasar Baru Bandung dalam skala kecil, aku jadi sekalian cuci mata liat-liat model sepatu, hihihi... Sayang, toko bukunya kecil dan baru buka, koleksi bukunya masih sedikit dan ga teratur. Chiclikt terjemahan yang kucari pun ga ada. Setelah bolak-balik ga jelas sampe diliatin karyawan toko, aku memilih tiga buah buku: Chocoluv-nya Ninit Yunita, kumpulan cerpen bernuansa Melayu berjudul Amuk Tun Teja, dan buku pertama dari The Bartimaeus Trilogy yang berjudul The Amulet of Samarkand.

Saat akan membayar buku di kasir, sekelebat aku melihat jilbab warna terakota yang kukenal di pintu masuk. Saat menoleh, sebuah wajah lagi nyengir lebar ke arahku dan langsung menyapa, "Koq pergi keluar ga bilang-bilang, sih?" Wkakakaka.... Cengirannya itu, lho, kayak yang merasa bersalah karena caught ini the act. Yupz! Jeng Ucan&family full edition baru aja memasuki toko buku. "Bukannya kalo mau pergi, mau sms aku?" Todongku, sambil mencubit-cubit pipi Eilen yang ngegemesin. Ternyata Jeng Ucan tadinya ga berniat pergi ke toko buku. Tapi saat mengobrol dengan suaminya, misua tercintanya itu salah tangkep bin salah tafsir ucapan Jeng Ucan. Mereka mendadak pergi dan Jeng Ucan (yang otak briliannya itu saturasinya hampir jenuh gara-gara kerjaan) benar-benar lupa mengirimiku sms.

Takdir banget, ga, sih???? Kami berdua ketemu di toko buku yang sama karena kesalahan sepele yang ga perlu. Emang udah rejeki tokonya juga kali ya ^_^ Nah, syukurlah, soalnya aku bingung kalo pulang dari sana naik angkot apa. Tapi alih-alih naik angkot, aku jadi diantar pulang naik Livina-nya yang nyaman dan gratis, heuheu.... Puas pula nyiumin dan nyubitin Eilen sesuka hati.

Ah, Sang Maha Pengatur di atas sana kadang suka bercanda....