Wilujeng Sumping...

Ini blog seorang mida, yang -seperti manusia lainnya- punya banyak kisah dan masalah untuk diceritakan dalam perjalanan hidupnya. Silakan masuk, duduk di mana aja dan baca-baca sesuka hati. Mau teh atau kopi? ^_^
Tampilkan postingan dengan label daily stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daily stories. Tampilkan semua postingan

22 November 2010

Meet My Girls

Satu lagi immature posting, hahaha...

Aku sekarang punya dua boneka barbie (tiruan, bukan asli :D). Tadinya beli cuma buat dijadikan 'model' buat bikin baju boneka yang kecil dan lucu-lucu ^_^. Tapi lama-lama jadi temenan karena tiap hari tidur bareng, hahaha...

Yang pertama kubeli Miana... Dibanding boneka lainnya yang satu harga, wajah Miana keliatan mirip banget sama Barbie yang asli, makanya aku ambil. Tapi, setelah dibandingkan, ukuran tubuhnya ternyata lebih kecil dari Barbie asli (aku bandingin sama salah satu dari seri 12 Dancing Princess), namun perut dan kakinya lebih besar dari rata-rata Barbie tiruan buatan Cina lainnya. Binun, kan? Makanya baju-baju Barbie murah-meriah di pasaran jadi kesempitan kalo dipakaikan ke dia.

Yang bikin ngiri, pake baju ukuran ga pas pun dia teteup cantik (mulai gila, nih, sirik sama boneka... na'udzubillah...). Bahkan pake baju-baju yang modelnya 'nggak banget' kalo aku pake di kenyataan, dia masih terlihat oke. Liat aja, nih....





Baju-bajunya hasil jahit sendiri...

Boong ding, itu Mama yang bikin :p
Tapi, aku lagi pengen belajar bikin, sampe niat beli bukunya segala :D
Soalnya kalo bikin baju ukuran manusia mah males... :p

Yang kedua kubeli adalah Jenna (buset, dah, ngasih namanya aneh-aneh gini, hihihi...). Baru 'kutemukan' di Pasar Kanoman beberapa minggu yang lalu, pulang dari foto-foto di Keraton Kanoman buat bahan tulisan di blognya Juragan Pupuk (tulisan tentang keraton lho, bukan baju boneka :p). Wajahnya manis dan klasik, suka deh... Tapi body-nya kecil banget, terutama kakinya. Dipakein sepatu pasti copot melulu :D

Di foto-foto berikut, Jen mengenakan baju-baju rajutan cantik hasil kreasi Jeung Dini... Makaci banget, ya, Say... Muah... Muah... ^_^


Aslinya dari Jeung Dini, pita bajunya warna kuning...
Tapi pitanya ilang... :'(



Miana pake bolero rajutan, keren ya?
Baju bernuansa ice blue Jen juga lucu...


Deuh... beneran deh, ni boneka-boneka banyak gaya... Kayak yang punya... :p

03 November 2010

Tebak-tebak Buah Manggis...


Futu si Abang aku blur, hihihi....
Yang bisa nebak (selain dikau,
we! :p), aku kasih manggis...
Ga, deng, ga tau belinya di mana...
Aku kasih buku aja deh... ^_^
(kayak blogku nih dibaca banyak orang aja, hahaha... keliatan ga niat, deh!)

21 September 2010

J4F


Coba liat ramalan bintangku di yahoo hari ini!
Whahahaha.... Ini sih namanya sindiran.
Kalo yang dia maksud 'unstoppable' itu tindakan nekad yang tak terbendung... yah... aku emang baru saja menghabiskan tabungan tiket liburan buat beli... satu set meja makan!
Hahaha...

I read this just for fun...
Well, at least it made me smile for a while :)

31 Mei 2010

A B U A

Meskipun telah menjadi tante bagi delapan orang ponakan (yang termuda baru berumur 8 hari ^_^), aku selalu dibuat kebingungan oleh tingkah anak kecil. Salah sikap, bisa jadi akan berakibat buruk bagi memori mereka yang masih polos. Hmmm... Latihan dan pelajaran sebelum punya sendiri ntar, hehehe... :p

Dulu, waktu nge-kos di Jogja, aku sering dibuat pusing oleh tingkah anak bungsunya ibu kos yang saat itu baru berusia tiga tahun.

“Tu, wa, ga, mpa...”. Pokonya kalo di tangga udah kedengaran suara cadel diiringi langkah-langkah kecil seperti ini, para ‘penduduk lantai atas’ alias anak-anak kos langsung heboh.

“Pengacau datang...!! Tutup Semua pintu!!” Barang-barang berharga pun ‘diamankan’. Dan sang monster cilik itu pun tiba dengan cengirannya yang khas. Langsung dia beraksi menggapai-gapai dan melempar semua benda yang menurutnya lucu kalo dilempar, hehe...

Monster cilik itu bernama Tulpin. Nama sebenarnya Alvin. Kulitnya putih bersih, bibirnya merah, kalo nyengir mirip banget sama ibunya, lucu, deh! Seperti anak sebayanya yang lain, dia punya hobi ngacak-ngacak dan melempar. Sudah banyak korban berjatuhan, dari mulai benda sekecil flash disk yang dilemparnya dari puncak tangga ke lantai bawah sampe telor mentah setengah kilo yang dimuncratkannya ke lantai kamarku (walopun udah dipel berkali-kali, ‘wangi’-nya masih tercium berhari-hari).

Selain hobi melemparnya yang nyebelin itu, ada satu hal yang suka bikin aku gemes dan kadang ketawa ngakak. Meski umurnya genap tiga tahun, tapi dia masih menggunakan bahasa alien. Sebagai contoh, sapaannya yang biasa padaku adalah, ‘Ba Nda a-i apa-i?’ yang artinya adalah ‘Mbak Mida lagi ngapain?’

Itu sih masih mending. Nah, suatu ketika, saat aku asyik membaca, dia lagi anteng memasukkan balok-balok kayu kecil yang bergambar huruf dan angka ke dalam sebuah kotak. Tiba-tiba dia mengacungkan kotak penuh balok kayu itu kepadaku sambil berseru, “Abua!”

“Apa, De?” Tanyaku bingung.

“Abua!” Ulangnya.

“Apaan sih ‘abua’?”

“Abua...,” katanya mengacung-acungkan kotak yang dipegangnya.

“Nggak ngerti, ah.”

“Abuaaa...” Kayaknya dia mulai kesal. Biasanya dia akan keukeuh mengulangi kata-katanya sampe yang diajak bicara mengerti apa maksudnya. Gawatnya, kalo kita nggak ngerti juga dia bakal nangis.

“Oh, oke, deh, abua...,” kataku dengan menambahkan dalam hati ‘whatever it is’. Untungnya dia baek, nggak nangis dan kemudian menumpahkan isi kotaknya lalu kembali memasukkan balok-balok kayu itu satu persatu.. Aku pun meneruskan membaca. Saat pengasuhnya datang, aku bertanya, “Mbak, ‘abua’ apaan sih?”

“Apa, De?” Mbaknya juga ternyata nggak ngerti, padahal dia satu-satunya penerjemah si Tulpin :D.

“Abua...” Tulpin mengulangi kata ajaibnya sambil kembali mengacungkan kotak penuh balok kayu warna-warni. Berkali-kali kami menebak maksudnya, tapi Tulpin tetap menggeleng. Akhirnya aku dan pengasuhnya terdiam, mikir, mengira-ngira kata apa yang bunyinya mirip ‘abua’ tapi berhubungan dengan kotak dan balok kayu.

“Ooooh....” Tiba-tiba pengasuhnya nyengir, “Nggak muat, ya, De?”

“Iyaaa.” Tulpin mengangguk senang.

Astaga...! Rupanya untuk membesarkan anak, kita harus punya kamus bahasa Alien! :D

18 Mei 2010

Tolong Habiskan....


Entah kenapa, aku sering kesal dengan orang yang menyisakan makanan di piringnya. Ada aja alasannya.

Aku pernah melihat pemandangan yang bikin aku shock. Di jalan kecil menuju tempat kos temanku, aku melihat seorang pria berusia lanjut, kumuh, baju robek-robek dan kotor, sedang lahap memakan sesuatu. Dan aku harus menahan mual karena dia memakan nasi bungkus yang sepertinya berasal dari tempat sampah, dengan sisa-sisa duri ikan tengah dijilati di mulutnya. Dan pemandangan seperti ini tidak hanya aku saksikan satu kali.

Aku juga pernah memiliki seorang teman, anak yatim yang tidak mampu, bercerita bahwa suatu saat, dia merasa lapar, tapi sang ibu tak punya uang untuk membeli makanan. Nasi kemarin telah habis. Akhirnya, sang ibu mengumpulkan sisa butir demi butir nasi kemarin yang ‘nyangkut’ di tempat nasi. Dan nasi itulah yang dimakan temanku. Saking tidak mampu lagi menafkahi, akhirnya temanku diserahkan sang ibu ke panti asuhan.

Maka, setiap kali aku nggak mampu menghabiskan makanan di piringku, aku selalu merasa bersalah. Sebisa mungkin aku habiskan hingga butir nasi yang terakhir (sampai-sampai teman-teman suka meledekku dengan bilang bahwa piring bekas makanku nggak perlu dicuci saking ‘bersihnya’). Dan Islam juga mengajarkan hal ini. Bahwa dalam sepiring makanan, kita tidak tahu, bagian mana yang membawa berkah, hingga kita harus menghabiskannya. Siapa tahu berkah itu justru ada di suapan yang terakhir. Hanya Allah yang tahu. Sayang, kan, jika kita makan hanya mendapatkan kenyangnya, tapi berkahnya ternyata kebuang di tempat sampah?

Karena itu, please, saat akan mengambil makanan, sesuaikan dengan porsi makan kita. Jangan karena ‘lapar nafsu’, kita lalu mengambil banyak lalu ternyata nggak muat di perut dan akhirnya terbuang. Atau jika makan di rumah makan yang kira-kira satu porsinya tidak akan habis, sebisa mungkin bilang pada pelayan untuk mengurangi porsi tersebut. Berjuanglah untuk memakannya sampai tak tersisa. Percayalah, hal itu layak untuk dilakukan.

Kita adalah orang-orang beruntung yang mampu membeli makanan setiap hari. Kita tidak perlu mengorek sampah hanya untuk mengganjal perut yang kelaparan, tidak perlu puasa tanpa berbuka karena tak punya uang. Jadi, bersyukurlah dengan makanan yang dinugerahkan Tuhan kepada kita dengan menghabiskannya.

*Ngeblog sambil berjuang ngabisin nasi goreng*

Sumber gambar: blog.americanfeast.com

15 Februari 2010

Tak Sekedar Memberi


Sore hari, saat warung Mimi sedang sepi pembeli, tiba-tiba sebuah motor menepi. Gadis pengendara motor itu menyerahkan bungkusan plastik besar pada Mimi.

"Siapa itu, Mi?" Tanyaku.
"Itu anaknya langganan Mimi," jawabnya sambil membuka plastik yang ternyata isinya sekumpulan kantong plastik bekas kusut. Dengan telaten, Mimi merapikan satu persatu plastik itu meskipun raut wajahnya terlihat tak suka.

"Mimi nggak berani ngasih rujak pake kantong plastik kayak gini, nanti disangka nggak menghargai pembeli," ujar Mimi. Kantong-kantong itu memang sangat kusut dan beberapa malah terlihat kotor. "Disangkanya kita nggak sanggup beli plastik ya, Nok. Padahal kantong plastik kayak gini dua ribu lima ratus udah dapat dua," sambung Mimi sambil menunjuk satu pak kantong plastik hitam baru.

Akhirnya, ghibah jadi tak terhindarkan....

Hmmm.... Aku menceritakan kembali di sini agar kita bisa sama-sama mengambil pelajaran.

Ibu yang memberi plastik itu, sebut saja Ibu A, hidupnya sangat berkecukupan. Dia sering memesan masakan khusus pada Mimi, misalnya pepes rajungan, sop ceker, pepes ikan kembung, dan lainnya. Yang Mimi keluhkan, si Ibu ini suka banget menawar. Padahal Mimi sudah mempertimbangkan harga tanpa mengambil untung banyak.

Contoh, untuk pepes ikan kembung yang harga ikan mentahnya aja Rp 10.000,00 setengah kilo (kira-kira sebanyak 7 ekor), satu bungkus pepesnya Mimi jual Rp 2.000,00. Wajar, kan? Ditambah bumbu, daun pisang pembungkus, bahan bakar dan tenaga, secara keseluruhan, Mimi hanya mengambil untung kurang lebih Rp 3.000,00 aja. Bagiku itu udah murah. Tapi, Ibu itu nggak mau tahu, ia keukeuh menawar sebungkusnya Rp 1.750,00. Mimi geleng-geleng kepala. Seberapa berartinya, sih, Rp 250,00 untuk orang sekaya dia?

Aku mendengar cerita Mimi sambil memperhatikan plastik-plastik yang tengah dirapikannya. Di antara plastik itu, selain berlogo nama-nama supermarket atau minimarket terkenal, terselip juga kantong besar dari Holland Bakery dan Dunkin Donuts. Aku nyengir masam, berpikir, apakah si Ibu A itu juga menawar harga sebuah donatnya jadi Rp 3.000,00 perbiji? Apalagi dengan ukuran kantong sebesar itu, minimal ia harus membeli setengah lusin donat.

Ironis, ya? Untuk membeli produk kapitalis yang pemiliknya udah jelas-jelas kaya, kita bersedia merogoh kocek tanpa pikir ulang. Tapi, saat membeli produk pedagang kecil seperti Mimi, kita tawar-menawar setengah mati. Yah, kecuali kalo harganya memang sengaja untuk ditawar seperti Malioboro atau Pasar Baru Bandung, sih....

Di lain waktu, si Ibu A pernah memberikan dua buah ayam goreng bagian dada pada Mimi. Setelah dicicipi, ayamnya ternyata 'beraroma' minyak tanah cukup menyengat. Dede Rusdy yang ikut mencicipi malah ngomel karena disangkanya Mimi yang memasak ayam rasa minyak tanah itu. "Mungkin ayamnya jatuh atau gimana, ya, Nok. Duh, pengennya suruh si Ibu itu makan sendiri aja."

Untuk ayam goreng dan sekumpulan plastik kusut yang diberikannya, aku tahu niat Ibu A baik. Dipikirnya, daripada dibuang, mungkin berguna untuk pedagang seperti Mimi. Tapi, kalau memang sudah berniat akan memberikan plastik-plastik itu, apa salahnya jika terlebih dahulu dilipat dan disimpan dengan rapi, dipisahkan palstik yang sudah sobek dan kotor, jadi si penerimanya juga senang. Dan makanan yang memang sudah tidak layak makan, bagiku tak ada jalan lain kecuali membuangnya. Kalaupun sebelum dibuang ada yang meminta, jelaskan dulu padanya kondisi makanan itu bisa membawa penyakit.

Dalam memberi, dibutuhkan lebih dari sekedar niat baik. Perhatikan juga barang yang akan kita berikan, jangan jadikan orang yang tak mampu sebagai 'tempat sampah'!. Cara memberikannya juga harus baik, jangan sampai menyinggung perasaan atau harga dirinya. Oh, ya, manusia kecil seperti kami juga punya perasaan dan harga diri!

Gambar diambil dari api.ning.com

28 Januari 2010

Tentang Mimi

Selapis dingin masih tergantung di udara luar, sisa hujan sore tadi. Siapapun hanya ingin bersembunyi di balik selimut hangat dan benderang lampu di dalam rumah yang nyaman. Namun, ketukan pelan di pintu kosku memberitahu tentang kedatangan seseorang istimewa di baliknya. Lirih ia memanggilku agar –jika aku tengah tertidur- suaranya tak menggangguku. Lekas kubuka pintu dan menyambut perempuan istimewa setengah baya itu.

Ia langsung membuka jilbabnya dan rebahan di kasurku. Aku sedikit tersenyum, agaknya suasana hati Mimi , panggilan ‘ibu’ untuknya, sama tak nyamannya dengan udara dingin di luar.

“Mimi tadi pagi ke sini, nggak?” Tanyaku, khawatir tak mendengarnya datang saat aku tengah mandi. Mimi selalu mengantarkan sarapan untukku tanpa mau dibayar. Sederhana, memang. Nasi jamblang khas Cirebon, nasi kuning, nasi uduk, lontong sayur, atau kadang saat Mimi sedang berhemat, ia memasakkanku nasi goreng tanpa lauk, yang membuatnya tak enak hati. Ah, semoga Allah memberkahimu, Mi… Setiap butir nasi yang Mimi sediakan telah menguatkan tubuhku untuk memulai aktivitas hari itu.

“Nggak, Nok. Tadi pagi ibunya Mamak jatuh di kamar mandi, jadi Mimi ke sana dulu.”

Mamak merupakan panggilan untuk suami Mimi. Ibunya yang telah sepuh tinggal di rumah berjarak tak seberapa jauh dari rumah Mimi, ditemani salah seorang putranya, kakaknya Mamak. Namun, saat kejadian itu, sang putra tengah mengunjungi anaknya yang telah berumah tangga. Mimi membatalkan rutinitasnya ke pasar untuk mengurus ibunya Mamak.

“Sekarang di rumah sakit?”

“Diurut aja, Nok. Saudara-saudaranya Mamak juga datang, termasuk yang dari Villa Intan.” Mimi terdiam sejenak. “Tadi Mimi baru jualan jam setengah sebelas, Nok. Tadinya ragu mau jualan atau nggak. Tapi, dipikir-pikir ngapain juga diam di rumah. Ya, wis, jualan aja.”

Mimi berjualan rujak (semacam gado-gado) di sebuah warung sederhana di dekat kosku. Di situlah pertama kalinya aku mengenal Mimi. Warung tanpa dinding, beratapkan terpal plastik warna biru yang telah bocor di beberapa titik. Sebagian jualannya disimpan di sebuah roda tua. Sebagian lagi disimpan di atas meja panjang yang dilengkapi bangku untuk tempat makan para langganannya. Musim hujan seperti ini, Mimi harus tutup lebih cepat karena warungnya diciprati butiran air tanpa ampun. Allah Maha Baik dengan menurunkan hujan di sore hari, jadi Mimi masih bisa berjualan dari pagi hingga waktu Ashar.

“Tadi tuh, Nok, sampai sore Mimi cuma dapat empat puluh ribuan. Eh, tau-tau datang mobil, parkir di depan warung, isinya penuh anak-anak sekolahan. Ya udah, pada minum kopi sama kerupuk dan roti, jadinya dapat lagi dua puluh dua ribu, Alhamdulillah….”

“Anak-anak sekolah minum kopi?” Tanyaku bingung membayangkan anak-anak berseragam SD atau SMP menyeruput kopi di warung.

“Iya, seumuran Rusdy gitu, Nok. Nggak tahu lah, mungkin anak kuliahan.”

Oh…. Rusdy itu putra Mimi paling bungsu, yang juga kuanggap adikku. Ia tamat SMA tahun kemarin dan sekarang bekerja di sebuah minimarket. Meskipun jahil, dia baik dan penurut. Dia sering bilang aku kakak yang menyebalkan karena bisa lebih jahil darinya, hehe…. Putra Mimi ada tiga orang; yang sulung, Mas Dwi, merupakan anak dari suami pertamanya yang meninggal karena kecelakaan saat mas Dwi baru lahir; Rusdy dan kakaknya, Mas Tris, adalah putra dari Mamak. Aku paling dekat dengan Rusdy, dia yang suka mengantarku ke mana-mana (termasuk ke salon ^_^) atau menjemputku di terminal saat aku pulang malam setelah mengunjungi kakakku di luar kota.

Well, kembali ke Mimi. Rata-rata Mimi mendapatkan hasil sekitar tujuh puluh ribu rupiah perhari. Setelah dipotong untuk belanja bahan-bahan rujak untuk jualan keesokan harinya, membayar kue-kue atau gorengan titipan, es balok, dan kreditan barang-barang seperti gelas, sandal dan segala macamnya, barulah Mimi membeli beras dan lauk untuk makan malam dan sarapan, termasuk untukku. Kadang, saat aku makan atau ngemil di warungnya, Mimi mematok harga sekenanya alias murah banget. Aku suka memaksa agar ia menerima uang lebih, tentu saja. Yang kadang ia kembalikan ke dalam dompetku dengan tak kalah paksa. Saat aku pulang ke Bandung atau ke tempat kakak, Mimi akan membekaliku oleh-oleh khas Cirebon, seperti kerupuk melarat atau intip buatan orang Gunung Jati. Dan nantinya Mama akan balik membekaliku oleh-oleh untuk Mimi.

Winda, calon ibu pejabat yang dulu satu kos denganku sampai nyeletuk, “dasar kamu anak kesayangan Mimi.” Hehehe…. Rusdy pun kadang ngiri juga karena Mimi suka menyimpan lauk lebih banyak untukku. “Mentang-mentang anak cewek, lebih disayang,” omelnya.

Ya, Mimi adalah ibu lain yang kumiliki di sini. Aku tak ingat lagi bagaimana semua mengalir hingga aku menjadi dekat dengannya. Tapi yang jelas, aku tahu Allah begitu Maha Kasih hingga Ia menjagaku melalui rasa sayang Mimi di sebuah kota yang sebelumnya sama sekali asing buatku. Saat aku sakit atau tak enak badan, saat aku ingin berbagi kebahagiaan, bahkan saat aku patah hati, ada pelukan dan tangan-tangannya yang tak halus namun penuh cinta terulur untukku. Alhamdulillah….

“Mimi nggak pengen makan?”

“Makan apa, Nok?”

“Enaknya apa, ya… Duitku juga dah abis, Mi,” kataku nyengir.

“Mie ayam di seberang, cuma empat ribu.”

“Yuk!”

Kami pun menembus sisa hujan, menikmati semangkuk mie ayam dan segelas teh panas, menu yang tak biasa untuk makan malam Mimi. Tak banyak kemewahan yang bisa kuusahakan untuknya. Tapi ‘menikmati’ wajah Mimi yang asyik menyeruput mie merupakan hadiah indah untuk mengakhiri malam itu. Kalau udah gajian, insya Allah menunya martabak manis kesukaan Mimi, ya!

07 September 2009

I Just Wanna Jump!


Aku sedang berada dalam zona tak nyaman. Uff... Diserang kejenuhan luar biasa terhadap berbagai hal dalam hidup. Apapun yang terjadi rasanya garink dan tak menarik lagi. Hari-hari berlalu tanpa ada yang istimewa.

Dalam keadaan seperti ini aku jadi lupa untuk bersyukur. Saat gempa terjadi, aku hanya bengong, melihat monitor dan lantai 3 tempatku berpijak bergoyang-goyang aneh. Lalu berceloteh seru dengan 'penduduk' kantor yang lain, dilanjutkan dengan merutuk dalam hati karena bos mengadakan rapat, membahas website dan rencana workshop beberapa saat setelah gempa terjadi (heran... kayaknya biar badai menghadang pun rapat harus tetap jalan, ya?)

Saat membaca status-status dan komentar teman-teman di facebook yang pada panik dan semua bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup, aku jadi bingung... Sebegitunya ya? Lalu tersadar kalau aku belum mengucapkan hamdalah sama sekali dari tadi. Tapi beneran, deh... Meskipun goncangannya lumayan ajib, aku sama sekali tak merasa ketakutan. Mungkin karena aku pernah mengalami gempa yang lebih hebat di Jogja tiga tahun yang lalu, jadi kali ini tidak begitu panik. Ah, bahkan musibah seheboh itu pun terasa garink bagiku....

Aku jadi sedih sendiri, bertanya-tanya, aku ini kenapa sih?
Setiap hari kerjaanku hanya tidur dan tidur. Aku bahkan jadi susah bangun pagi. Harusnya udah ada di kantor jam 7 pagi, ini malah baru bangun.... Luar biasa bosan, tapi juga terlalu malas untuk melakukan apapun. Ujung-ujungnya jadi melamun lagi.... Memikirkan yang telah lalu dan sakit hati yang diakibatkannya yang tak kunjung sembuh. Ah, tuh, kan, mellow lagiiii....

Bahkan kegiatan menulis yang dulunya jadi pelarian menyenangkan jadi terasa membosankan juga. Pensil udah di tangan, kertas bersih terbuka di atas meja, ide berputar-putar di kepala, tapi hanya sanggup menghasilkan satu alinea dalam waktu berhari-hari....

Suasana baru jelas merupakan jawaban dari kebosananku. Dulu, waktu masih jadi mahasiswa, kalo lagi jenuh, aku sering 'mengutak-atik' kamar kosku. Dicat ulang, ganti rak, ganti posisi, tambah ini-itu. Ah, jadi teringat lagi dengan keinginanku yang belum tercapai: pengen jadi desainer interior! Hehehe... Aku bahkan googling dan 'mengintip' website kampus-kampus yang memiliki jurusan ini. Tapi, mengingat umurku yang udah uzur, masih pantas gitu ya jadi mahasiswa S-1?

Pengennya sih, segampang di pilem-pilem.... Begitu jenuh, patah hati, lari ke luar negeri, ketemu orang-orang baru, tantangan baru, pekerjaan baru, sekolah lagi, trus ketemu soulmate, hehehe... Asik ya kalo masalah hidup bisa selesai dalam durasi 100 menit ^_^

Jadi inget lagu dari Simple Plan, band favoritku, yang judulnya 'Jump' (herannya lagu-lagu mereka selalu mewakili cerita hidupku).

I dont wanna wake up today
Cause everyday's the same
And I'd been waiting so long
For things to change
I'm sick of this town
Sick of my job
Sick of my friends 'cause everyone's jaded
Sick of this place, I wanna break free
I'm so frustrated, I just wanna Jump! (Jump!)
Hmm.... Ada ide aku harus ngapain?

15 Mei 2009

Cinta Atau Sayang?



Kemarin Mimi bertanya padaku, "Milih mana, Nok, cinta atau sayang?"

Tanpa pikir panjang, aku menyahut, "Sayang!"
Mimi mengangguk. Sebenarnya aku sudah tahu alasannya, tapi tetap kutanyakan lagi, hanya untuk menghilangkan rasa penasaran, "Emang bedanya di mana, Mi?"

"Cinta itu bisa habis," jawab Mimi dengan mata menatap ke kejauhan. "Daripada cakep tapi cintanya cepat habis, mending yang jelek tapi sayang...." Aku terkekeh mendengarnya. Ya, aku telah belajar, jauh sebelum aku bertemu dengan sosok ibu yang kupanggil Mimi, bahwa cinta memang bisa luntur dan akhirnya habis. Tapi rasa sayang, menurutku, nyaris tak berbatas dan abadi....

Kisah cinta Mimi adalah salah satu buktinya. Suami pertama Mimi meninggal karena kecelakaan, beberapa hari setelah Mimi melahirkan putra pertama mereka. Aku membayangkan (biassaaa... drama queen gitu loh! Hehe...), Mimi muda pastilah amat menderita karena tiba-tiba kehilangan 'pegangan'. Hampir seluruh harta benda diambil oleh pihak keluarga almarhum suaminya (yang menurut Mimi memang tidak pernah menyetujui pernikahan mereka), padahal bayi yang baru lahir jelas membutuhkan biaya banyak. Untunglah masih ada simpanan kalung yang tersisa. Dengan modal itulah Mimi berjualan rujak.

Ternyata datang seorang laki-laki yang menyayangi Mimi dan putranya. Mulanya Mimi tak memiliki perasaan apapun padanya. Namun, kebaikan hati laki-laki itu meluluhkan hati Mimi, dan itu bukanlah cinta. Semuanya berawal dari rasa iba yang tumbuh menjadi sayang. Lihatlah, pernikahan mereka tetap awet hingga usia senja. "Kayak kakak-ade," tambah Mimi tersenyum.

Sedangkan pasangan yang mulanya dilanda cinta menggebu, dalam hitungan tahun, bahkan mungkin bulan, tiba-tiba berpisah seolah perasaan berbunga-bunga yang dulu pernah ada menguap begitu saja tanpa jejak.

Iya, cinta akan mempermanis sebuah hubungan, tentu saja. Hampir semua pasangan yang ada di dunia mengawali kisahnya dengan rasa cinta dan itu sungguh indah. Tapi, lagi-lagi menurutku, perekatnya adalah sayang. Dengan rasa sayang, setiap pasangan akan bertahan, menerima, memaafkan dan menumbuhkan lagi kebahagiaan. Di atas kebahagiaan itu akan tersemai kembali rasa cinta. Ketika cinta mulai jenuh dan membeku, rasa sayanglah yang akan membuatnya kembali penuh dan hangat.

Andai saja... Andai saja ada seseorang yang mampu mencintaiku dan mengikatku dengan rasa sayang seperti itu. Dan andai aku mampu mencintai dan menyayanginya dengan cara yang sama...

Sudahkah kalian menemukannya? :)

Sumber foto: lupa, euy! :D

08 April 2009

Coverku Jelek

Berangkat dari kos, perasaanku udah ga enak. Kayanya bakal mengalami sesuatu yang ga menyenangkan, entah hari ini, entah besok atau lusa. Sebutlah itu feeling, yang kemudian dibantah logika. Logikaku mengatakan, 'ya iyalah, dengan berbagai jadwal kegiatan pekerjaan yang terus mundur, kekurangan peserta, website mati suri dan materi presentasi yang belum selesai, jelas mood-nya jadi ga enak'.

Begitu lihat komputer pojok yang nganggur, aku iseng-iseng menyalakannya lalu membuka-buka file (toh, ini komputer milik bersama, bukan milik pribadi). Hingga.... jrengggg.... aku melihat foto itu. Hwaaahhh... langsung mood-nya turun dari setengah happy jadi unhappy at all.... Ngeliatnya bikin sakit hati, bukan sakit mata....

Efeknya ga hilang sampe sesiangan. Ngeliat foto itu membuatku jadi merasa cewek paling jelek sedunia. Ga biasanya, aku sampe bolak-balik ke toilet cuma buat memeriksa jilbabnya rapi ga, bedaknya luntur ga, keliatan gemuk banget ga. Tiba-tiba jadi benci banget ngeliat bayanganku di cermin. Kok item sih? Kok gemuk? Kok mukanya bulet? Kok tua? Kok pendek? Kok bibirnya tebel? Kok pesek? Kayanya ga ada satupun di fisikku yang membuatku senang. Jadi kufur nikmat gini.... T_T

Biasanya aku mengatakan pada diriku sendiri, 'I love the way I am, I'm happy with my life!'.... Tapi gara-gara foto brengsek itu, aku membanding-bandingkan diriku dengannya dan akhirnya susah senyum, susah bersyukur....

Dengan rada bete, aku keluar dari kantor untuk istirahat siang. Kayanya butuh kopi buat menenangkan diri (nyambung ga siy?). Keluar dari minimarket, aku melihat warung rujaknya Mimi. Mimi itu panggilan buat Ibu di Cirebon. Dan rujak itu bukan rujak buah-buahan dengan sambal manis pedas dari kacang dan gula merah, tapi lebih mirip lotek atau gado-gado. Hubunganku dengan Mimi memang lumayan dekat. Kami sering bertukar cerita. Pernah Mimi berkunjung ke kamar kosku, dan kita ngobrol sambil tidur-tiduran di kasur dari jam 8 malam sampe jam setengah 10, hehe... serasa curhat-curhatan sama Mama di Bandung.

Aku akhirnya ke warung Mimi dan memesan kopi. Kebetulan lagi hujan rintik-rintik dan udara cukup dingin hingga menyeruput secangkir kopi buatan Mimi rasanya nikmat banget. Ditambah lagi pepes jamur yang baru matang jadi masih mengepul, wuiiiii....! Tadinya aku mau curhat pada Mimi, bahwa aku merasa jadi cewek paling jelek sedunia. Mimi pasti menghiburku bahwa aku 'nok ayu' seperti yang sering dikatakannya ^_^. Tapi entah kenapa, aku merasa curhat itu ga penting banget. Aku memerhatikan suami Mimi makan siang seadanya lalu memanggil-manggil putra bungsunya yang bekerja di minimarket seberang jalan agar segera istirahat dan makan. Mimi membuat rujak asem (cuma daun kacang dibumbui asam) untuk dirinya sendiri. Betapa sederhananya hidup mereka, but yet so grateful. Hidupku jelas jauh... jauh... lebih baik. Jadi, apa lagi sih yang kukeluhkan?

Hmmm.... Biar deh 'cover'-nya jelek juga. Pokoknya aku harus punya hati paling cantik dan mendapatkan seseorang yang mencintaiku apa adanya. Suittt... suittt... Heuheu.... (amin...).

17 Maret 2009

Keluhan Pagi: Senyum Aja Mahallll....!


Ini hal sepele, aneh (setidaknya bagiku), tapi sering terjadi di mana-mana... Apakah ituuu? (Hehe... kaya nanya ke anak TK)
Diskriminasi senyum berdasarkan kecantikan fisik!


Sebagai seseorang yang segalanya serba biasa aja, kadang rada ga nyaman kalo berada dengan seseorang yang cantik jelita (yang ge-er ngacung! hehe...). Orang-orang yang biasanya berwajah jutek saat ketemu denganku tiba-tiba mukanya jadi full senyum, nyapa ramah, tapi (catet) hanya sama si cantik aja. Aku sih dicuekin beibeh. Ketika aku berusaha berwajah ramah juga, wajahnya kembali jutek saat bertemu pandang denganku. Ga habis pikir... Ada ya, orang kaya begitu? Dan (catet lagi), yang bertingkah begitu ga cuma satu orang aja!

Aku jadi was-was, jangan-jangan aku pernah berbuat salah ya? Tapi, masa sih? Kehadiranku di kota ini aja baru beberapa bulan, dan yang kukenal hanya itu-itu aja. Rasanya aku ga pernah berurusan sama mereka. Meskipun ga kenal, boleh dunk untuk bermurah senyum, yang nyata-nyata shadaqah paling gampang. Apalagi kalo ketemu hampir tiap hari. Cuma menarik sudut mulut ke pinggir kiri dan kanan beberapa cm, menciptakan wajah yang enak dilihat selama beberapa detik kan ga rugi... Tapi kalo yang disenyumin pura-pura ga ngeh akan keberadaanku, buang muka atau jutek, yaaa... shadaqahnya berganti menjadi bentuk pahala lain, yaitu: bersabar! ^_^ Beda sama si cantik, baru beberapa hari di sini, meskipun expressionless, dari pintu masuk sampe lantai atas semua melirik sambil memberinya senyum untuk menarik perhatian. Wkakaka.... koq jadi ngiri mode on ginih.... :p

Ngga... ngga ngiri... Kecantikan itu anugerah-Nya. Dan aku yakin semua orang cantik dan tampan dengan caranya masing-masing. Tapi tolonglah, untuk sekedar ngasih senyum ramah aja, masa sih, harus dibuat skala prioritas berdasarkan kecantikan segala.... Apalagi kalo ditambah prioritas kedudukan sosial atau kelimpahan materi, waduh....

Dunia ini terlalu indah buat dikotori hal-hal sepele seperti itu.

12 Maret 2009

Tukang Sablon Nyasar



Aku kadang merasa jadi alien.

Di satu ruangan ini, semua bergelar sarjana teknik, kecuali aku :D
Yah... aku kan cuma tukang sablon, jadi pangkatnya ga sekeren yang laen. Lucunya, aku sering ikut 'diseret' saat ada presentasi dari tamu pembicara yang diundang. Pertama kali, aku protes karena jelas-jelas aku ga bakal nyambung dengan materi yang dipresentasikan. Tapi ,demi 'memenuhi kuota' (sayang, kan, kalo udah diundang jauh-jauh dari luar kota, dibayar mahal pula, tapi sharing ilmunya hanya dihadiri sedikit orang), aku akhirnya datang juga ke ruang rapat, hanya untuk bengong dan makan konsumsi ^_^

Presentasi pertama tentang Gas Liquid Cylindrical Cyclone. Tuh, temanya aja dah bikin jidatku berlipat tujuh. Meski Mas Leks menerangkannya dengan santai, teteeppp... aku cuma duduk tanpa ekspresi sambil makan jeruk dan anggur, heuheu... Tapi ,aku salut karena alat ini prinsip awalnya ternyata sederhana. Cuma rumus fisikanya.... bikin gila....

Nah, kemarin, lagi terkantuk-kantuk baca buku tentang joomla, aku 'terpaksa' ngikut presentasi lagi. Kali ini tentang problem water coning di sumur horizontal. Wkakaka.... cuma ketawa aja dalam hati, ngapain tukang sablon ngikutin kaya ginian. Udah datangnya telat pula, serasa bernostalgia aneh aja saat ngeliat Mas Pudji presentasi di ujung meja. He was much older than i remember. Selebihnya, apa yang beliau terangin, au ah gelapppp!!! :p

Hari ini, lagi-lagi dibujuk ikut presentasi smart well. Makjang.... apalagi itu? Dengan suksesnya aku menggeleng dan bertahan di kursi. Begitu teman-teman yang lain pergi, aku malah ngeblog sambil minum coklat panas, hehehe.... Trus dikasih buku Terapi Herbal Berdasarkan Golongan Darah sama Mbak Nanik.... Duile... tukang sablonnya lagi males-malesan gini.... padahal workshop terdekat tinggal sebulan lebih.... T_T

Sumber gambar: www.dragoart.com

27 Februari 2009

Dasar Males...


Seminggu ini aku telat masuk kerja terus. Malesnya lagi gila-gilaan (emang biasanya nggak? :p). Aku bahkan menyalahkan jam mejaku, abisnya entah bel masuk (yang bunyinya-nggak-banget, mirip peringatan ada serangan udara di zaman perang dunia) dipencet petugasnya makin cepet, atau jam mejaku yang makin lambat kehabisan energi baterai. Sekarang bel masuk itu terdengar setiap pk. 06.47, bukan pk. 07.00 seperti seharusnya.

Hari ini aku juga telat lagi, tapi berhubung hari Jum'at pagi di komplek perkantoran ada kegiatan aerobik, masuknya lebih lambat. Tetep aja... masuk jam 07.30, keluar dari kos jam 07.25. Bheuuu... padahal mau beli nasi kuning dulu buat sarapan.


Di seberang kos ada penjual nasi kuning yang baru buka beberapa minggu. Nasi kuningnya lebih dikit tapi bumbunya lebih terasa. Enak, lho! Tapi satuuuuu aja yang bikin aku suka gemes, si Ibu penjual nasi kuningnya seolah bergerak dengan slow motion. Beneran, deh! Gerakan tangannya yang berpindah-pindah dari mengambil nasi kuning, kering tempe, dll sampai terakhir telur balado, kayak terjadi dalam waktu jutaan tahun (hehe... terlalu hiperbolik, siy... ^_^). Apalagi buat yang lagi telat kayak aku, duh... duh...! Gemesss.... pengen ngebantuin ngambilin aja, tapi takut ibu penjualnya malah ngamuk, akhirnya bukan dapet sarapan enak malah dilemparin sambal, hehehe... Ga, ding, penjualnya bae koq ^_^


Hwah... Hari Jum'at.... Semangatnya udah libur duluan nih....

12 Februari 2009

Kangen Ngopi....



Rasanya udah berabad-abad sejak terakhir kali aku minum kopi, hiks.... Sejak pertengahan tahun lalu, lambungku tiba-tiba jadi sensi dan manja. Padahal, biasanya direcokin sama sambal ijo nasi padang atau sambal buatan Ecko (duh, Ko, kangen sambal buatanmu!), ditambah dua gelas kopi tiap hari juga oke-oke aja.

Pulang dari resepsi pernikahan Jeng Sari, aku sampai ambruk di rumah teteh di Pekalongan. Kupikir karena masuk angin dan kecapekan, soalnya aku menempuh rute (emang angkot! :D) Jogja-Pekalongan-Bandung trus balik lagi ke Pekalongan ke acara Jeng Sari. Besoknya cabut lagi nemenin ponakan-ponakan maen ke Bogor.

Tapi, sejak itu tubuhku jadi rewel. Tiap aku minum kopi dan tiap telat makan rasanya limbung. Yang paling ga nahan nyut-nyut di kepala, duh.... Akhirnya aku kurangin minum kopi. Biasanya paling ga bisa kalo sehari ga ngopi, inget terus sama aromanya yang mmmmhhh.... :p

Nah, apalagi sejak sakit kemarin, praktis hampir sebulan aku berusaha melupakan secangkir candu itu. Kalo di kantor ada yang menyeduh, menghirup aromanya aja udah bikin aku sakit hati, apalagi berusaha menahan diri untuk ga ikut-ikutan bikin, rasanya pengen nangis darah... (ga, deng, ga segitunya, hehe...).

Berbungkus-bungkus Cappuccino instan di kos pun terpaksa aku cuekin. Meskipun udah berusaha diganti teh atau coklat, tetep aja kangen.... Rasanya tuh bungkus kopi melambai-lambai terus pengen dibuka, diseduh, dan dinikmati *halah*. Sekaliiiii aja, pikirku, kayaknya ga apa-apa, deh.... Tapi membayangkan obat-obat yang harus kutelan, ditambah repotnya orang-orang tercinta saat aku sakit, plus biaya rumah sakit yang harus dikeluarkan, bheuuuu.... Ampuh banget untuk menolak godaan teramat sangat berat itu.

Gimana, ya, caranya biar bisa ngopi lagi? Hiks....

06 Februari 2009

Dilema Makan Malam




Kemaren aku lagi ngidam nasi jamblang. Ga tau kenapa, lagi pengeeeennn banget makan nasi dibungkus daun jati sama lauk-pauknya yang asik itu. Maka, ketika maghrib tiba dan berhasil 'kabur' dari pekerjaan, aku langsung mengajak Uray nge-jamblang. Eh, ternyata di warung jamblang udah ada Harun dan Ihwan. Waaa... tinggal manggil Chief dan Ibu Sekjen, bisa meeting di situ tuh, wkakakaka....


Setelah memesan jus jambu dan membeli nasi jamblang, aku langsung pulang ke kos yang ga berapa jauh dari situ. Di kos, aku langsung dicegat Mas Slamet, 'tetangga kamar' yang memberiku sekotak nasi kuning pemberian 'tetangga kamar' baru di sebelah kamarku. Wah, pantesan pas pulang istirahat siang, ada kegiatan masak-memasak yang ga biasa di dapur kos.


Nah.... Nah.... Aku jadi bingung mau makan yang mana. Soalnya, sejak sakit, kapasitas perutku sepertinya agak berkurang. Biasanya aku disebut-sebut punya usus tujuh belas jari gara-gara selera makanku yang bikin cewek-cewek model pada pingsan. Kalo lagi normal, semuanya mungkin muat kumakan dalam waktu hampir bersamaan (mungkin, lho, ya! ^_^). Tapi sekarang....


Aduh, makan mana dulu ya... Takutnya dua-duanya basi kalo disimpan sampai pagi. Hwah, tau gini, aku terima tawaran Mama buat beli magic com. Nasi kuning ataw jamblang? Aku pengen banget makan jamblang, tapi kan kasian tetanggaku yang udah cape-cape masak, trus nasinya aku cuekin. Apalagi keliatannya juga menggoda banget... Trus kalo nasi kuning dulu, sayang dunk jamblangnya, udah ngidam niy.... Hiks.... Tambah lagi jus jambu yang isinya segelas gede itu. Duh... duh....

Akhirnya yang terjadi seperti ini (dengan pemotongan adegan-adegan yang ga perlu): makan nasi kuning dulu (untuk menghargai kebaikan hati tetangga baru), bangun jam 2 pagi minum jus, dan pagi-pagi menghantam nasi jamblang (alhamdulillah masih bisa dimakan meskipun rasanya rada-rada beda, heuheu... daripada mubazir....). Sempet teringat bakteri2 salmonella paratyphii yang sempet bikin rusuh ususku siy... Tapi, bismillahi tawakkaltu... niatku kan bae, moga2 ga pa pa ^_^

31 Januari 2009

Waduh... Kehapus, Deh....

Aku orangnya ceroboh.... (ceroboh koq bangga!)
Heuheu... bukannya bangga, tapi kecerobohanku kadang suka bikin ketawa sendiri. Kecerobohan yang paling sering kulakukan di kantor adalah kesandung kabel-kabel yang berserakan ga jelas di samping meja. Dan terhitung sejak akhir tahun 2007, aku jadi latah, ketularan Tetehku yang sering bilang, "Eh, crot!" kalo dia melakukan kesalahan. Asalnya suka aku ketawain. Tapi hukum karma ternyata berlaku karena sejak saat itu aku jadi ikutan latah dengan kata yang berbeda. Maka tiap kali kesandung kabel aku bilang, "Monyong!" secara refleks, sebel dehhhhh....! Untungnya sekarang latahnya agak berkurang.

Kecerobohanku yang terakhir di kantor adalah menumpahkan segelas penuh teh panas di meja sampe membanjiri keyboard, bagian bawah monitor dan lantai. Seluruh temen-temenku seruangan sampe sibuk ngelap-ngelap dan ngepel sambil ketawa-ketawa ngakak karena semua pada nyeletuk, ngomentarin aku. Soalnya saat itu terjadi, ruangan lagi sunyi senyap, semua sibuk dengan kerjaan masing-masing, dan aku bikin heboh dengan suksesnya. Para 'karyawan kelas atas' juga sampe sempet-sempetnya melongok ke ruangan saking kita heboh ketawa. Duh... bikin malu aja (anyway thx, guys, dah mw ngelap dan ngepel segala, heuheu...)

Nah beberapa menit lalu, aku bikin kecerobohan lagi... Ada seorang kenalan baru kirim e-mail. Setelah aku baca, maksudku mau klik
button reply, tapi tanganku rupanya lagi bandel karena yang diklik malah delete, hwaaahhh.... padahal kan e-mailnya belom di-save di address book. Maafkan aku... Hiks....
Tapi dia janji mau kirim e-mail lagi siy... mudah-mudahan aja iya. Kalo nggak salah namanya Rahmah Abdullah.... Aku sampe coba nanya sama mbah Google lho, mana tau ada infonya, ternyata nggak nemu....

Jadi, tolong kirim e-mail lagi yaaaa....

(Masalahnya blogku dibaca nggak, ya... Hiks...)

30 Januari 2009

Koq Bisa Siy.....

Satu-satunya meja di kosku berantakan banget. Ga nyadar, numpuk barang-barang, tau-tau udah penuh aja sampe ga ada tempat buat nulis lagi. Ini daftar benda yang bertebaran di mejaku:
- 1 kotak energen (isinya tinggal 2 sachet)
- 1 mi cup ABC
- 1 bungkus crackers asin
- 1/2 bungkus biskuit Togo (murah meriah enak :p)
- 9 sachet kopi cappuccino instan
- 1 kotak Anlene Actifit 250 gr
- 3 bungkus Super Bubur instan
- 1 botol air mineral 1,5 L
- 1 kaleng susu Bear Brand
- 1 kotak teh celup Cap Poci Vanila
- 1 kotak teh celup Upet (teh hijau)
- 1 kotak Jahe Wangi instan (isinya tinggal 4 sachet)
- 2 kotak Honeyjus
- 1 kotak plastik gula pasir
- 1/2 bungkus keripik getuk pedas
- 1 bungkus roti tawar kupas
- 1 bungkus Sozzis ayam
- 1 bungkus selai kacang (hampir habis)
- 2 buah Funtime
- Kerupuk 4 biji sisa makan gado-gado
- Obat batuk pilek
- Obat sakit kepala
- Obat maag Mylanta
- Kapsul cacing
- Jamu Koneng Temen buat lambung
- Obat-obatan sisa resep dokter pas sakit

Wheewww.... Kayak persediaan mau ada badai terus terkurung berhari-hari di dalam kamar *garuk-garuk kepala*

Selain yang bisa dimasukin perut, ada juga benda-benda laen: mangkok, gelas, sendok, lap, novel, Quran, tabloid, kuitansi Rumah Sakit, jam meja, bungkus plastik, karet gelang dan sarung buat guling yang aku jadikan taplak (
can you believe it?)

*garuk-garuk kepala lagi... emang ketombean siy...*

Hiks... harus beli lemari baru kayaknya...

Lebih tepatnya, harus diet... diet body dan diet dompet...



PS. Sorry ga ada fotonya... terlalu mengerikan buat diliat...
(padahal emang ga punya kamera, heuheu...)

28 Januari 2009

Barang Bagus Euy!





Kebetulan aja dapet majalah BusinessWeek terbaru yang dibeli bos. Liat majalahnya aja udah membuat tampangku menunjukkan 'aduh-ga-makasih'. Otakku yang kapasitasnya pas-pasan ini mungkin ga bakal nyambung dengan majalah sekeren itu. Tapi bos minta artikel-artikel tertentu di beberapa majalah yang terserak di ruang rapat itu di-scan dan difotokopi. Jadi terpaksa lah tu majalah aku bawa pulang. Ceritanya di kos mau aku saring dulu artikel-artikel yang dimaksud oleh beliau.

Eh ternyata aku nemu Tod's. Aduh bikin ngilerrrrr (dasar cewek).... Aku emang lagi nyari tas yg lebih feminin. Selama ini aku kemana-mana bawanya ransel, biar muat banyak, sampe suka diejekin temen-temen. Tapi di Tod's totte bag pun didesain keren.... Banyak pilihan warna ungu-nya lagi, which is my fave color (jelas banget kliatan dari warna blog-ku kan ^_^). Tapi barang lucu harganya juga jelas 'lucu' T_T
Aku juga suka banget sepatu! Tapi ga suka harganya, hehe... maklumlah masih krucuk, bukan bos. Kalo lagi jalan-jalan di Bandung, tempat yang daya magnetnya kuat buat aku namanya House of Donatello di Dago (yang setiabudi kejauhan siy...).

Makanya pengennnn... deh, seumur hidup sekaliiii... aja, dapet hadiah sepatu Prada, hehehe... Atau ga usah jauh-jauh deh, Linda Chandra juga nggak pa pa (widiiii... ge-er banget ya, siapa juga mw kasi hadiah....). Yaaa... mana tau ada yang kelebihan duit atau saking cintanya sama aku trus bela-belain puasa sebulan buat beliin itu *ngarep mode: on*

Hmm... udah ah, tugas dari bos belom dilaksanakan...

Ooops... tapi artikel yang mana ya?

*kelamaan terpesona liat barang bagus*

A Great Getaway ^_^


Terinspirasi dari YM-an dengan sobatku wewe Linda...

Saat akan pindah dari Jogja ke Cirebon, sambil beres-beres barang di kos-an, aku ngerumpi dengan Jeng Yaroh di telepon. Waktu beres-beres, aku menemukan potongan gambar-gambar dari majalah dan koran yang menurutku lucu kalo dikoleksi. Bukan untuk dikliping, sih, hanya dikumpulkan karena menurutku gambar-gambar itu bisa memberikan inspirasi untuk menulis atau sekedar corat-coret di Corel.

"Jangan harap, deh...," kata Yaroh, "nggak akan ada waktu buat nyalurin hobi kalo udah kerja."
"Matsa tsih?" Tanyaku nggak percaya. Masa iya, dari 24 jam yang disediakan Tuhan, 10 jam untuk bekerja, 7 jam untuk tidur, masih sisa 7 jam lagi kan.... Dipotong ibadah ritual dan melamun pun masih sisa banyak.

Ternyata di awal kerja memang agak keteteran. Dengan bos yang senang mengadakan rapat dan presentasi seusai jam kerja, kadang aku pulang ke kos jam 9 malam. Udah nggak pengen ngapa-ngapain lagi, biasanya langsung terkapar begitu aja di kasur. Niat cuci muka aja nggak... (hihi... jorok ya...).

"Bener, kan?" Kata Yaroh saat ia menelepon lagi. Aku cuma cengar-cengir. Untungnya, meskipun kadang suntuk, tapi kebanyakan yang aku kerjakan di kantor memang nggak jauh-jauh dari Photoshop dan copywriting, jadi sesuai minat. Nggak kebayang kalo aku harus berurusan dengan Enhanced Oil Recovery seperti Kak Ucan, misalnya, hwaaah... ke laut aja deh! (Ya iya kalo offshore ya ke laut, hihihi...).

Tapi bener kata wewe Linda,
cicak tersayang ini mengatakan kalo waktunya terasa habis begitu aja. Yupz. Tapi alhamdulillah sekarang aku punya 'tempat pelarian'. Apalagi kalo bukan menulis? Di tempat pelarianku itu, aku bisa mengembara ke pantai, ke gunung, bahkan hingga ke Venice tempat orang-orang jatuh cinta naik gondola di kanalnya yang romantis. Hanya dalam satu jam, aku bisa menjadikan diriku di posisi orang lain.... Jadi Tante yang mengadopsi gadis kecil cantik bernama Sarah, jadi Rin yang dikirimi e-mail undangan pernikahan oleh pria yang dicintainya diam-diam, jadi Sissy yang mencari kejelasan dari bayangan 'lelaki hujan'-nya, jadi Lantana yang liar.... Wuih....

Memang baru dua cerpenku yang diterbitkan. (Tambahan satu surat cintrong di buku kumpulan surat dari Gagasmedia itu, hihihi...). Tapi tak masalah, itu juga alhamdulillah. Aku bisa cukup puas bisa 'bermain' setiap hari di luar waktu kerjaku. Diseling dengan membaca majalah dan buku-buku, setidaknya aku tak merasa waktuku terlalu 'kosong'. Dan aku bisa menjalankan hobiku meski hanya satu jam sehari.

Dan wewe Linda dear.... Sebenarnya wewe pun punya bakat menulis, terutama tentang travelling, review buku atau film dan.... makanan ^_^ Hanya wewe nggak pede buat memulai, ya kan? Terlalu males juga karena udah pewe kalo di rumah, hihihi... Makanya ngekos aja :D
Atau ajakin si 'mas' buat wisata kuliner jd ada bahan buat review ^_^ deu... yang udah punya 'mas', berapa karat we? Hihihi....

Banyak kok 'tempat pelarian' yang bisa ditemukan. Kadang hanya dengan memejamkan mata dan membayangkan tempat favorit atau hal-hal yang ingin dilakukan bisa menjadi pelarian juga ^_^

27 Januari 2009

Selembut Senyum Yuria....

Jum'at....
Hari keempat sejak dokter menyarankanku untuk istirahat total di tempat tidur. Aku baru saja terbangun setelah menghabiskan waktu berjam-jam di bawah pengaruh obat ketika Papa menyodorkan HP jangkrik berwarna pink bocel-bocel sambil berkata, "Ada sms."

Suatu hal yang manusiawi jika dalam keadaan sakit, aku sungguh mengharapkan kabar baik. Namun saat membaca sms itu, semangatku rontok begitu saja. Dan aku kembali berbaring, memejamkan mata lalu bayangannya samar-samar hadir kembali, seolah aku baru melihatnya kemarin.

Jika ia datang, blus panjangnya tersembunyi sebagian di balik jaket. Rok yang dikenakannya selalu berlapis. Dan segera setelah membuka slayer yang menutupi sebagian wajahnya, senyumnya yang ramah dan malu-malu akan terlukis untuk menyapaku. Rumah kontrakan di Jogja itu menjadi kenangan bisu tempat kakinya pernah meninggalkan jejak, kamar yang pernah dihiasi aura hangat tubuhnya, air dingin di pagi buta yang pernah membasuh kulitnya, dan relung-relung di dinding yang pernah menggemakan suara lembutnya. Bahkan karpet pudar di ruang tamu pernah diduduki bersama seseorang yang seyogyanya akan menjadi calon suaminya.

Ternyata itu bukan kemarin, tapi lebih dari setahun yang lalu....
Dan sekarang, dengan gamang, aku harus menghapus namanya dari daftar kontak di HP-ku. Takkan pernah lagi ada sms-nya apalagi kudengar suaranya. Walau memang jarang bertemu sapa, namun seiris rasa kehilangan tetap ada dan menyelusup aneh.

"Mbak Mid.. Yuria sudah dipanggil kembali ke sisi-Nya. Mohon do'anya."

Kembali kubaca sms singkat dari temanku Nuning di Jogja.
Ah... Yuria... telah tunai tugasnya di alam fana. Takkan lagi dirasanya sakit yang menggerogoti tubuhnya. Dan Allah begitu sayang hingga Ia tak sabar memanggil gadis baik hati itu pulang kembali pada-Nya.

Lalu aku? Kapan ya tugasku selesai?
Hmm... masih banyak janji dan hutang yang belum terselesaikan. Tapi waktu telah menegurku dengan hati-hati, bahwa hari-hari yang tersisa semakin sedikit. Dan kenangan akan kesabaran seorang Yuria dengan senyumya yang lembut akan mengisi memoriku. Selalu.

Selamat jalan, Cantik. Semoga damai di sisi-Nya.