Wilujeng Sumping...

Ini blog seorang mida, yang -seperti manusia lainnya- punya banyak kisah dan masalah untuk diceritakan dalam perjalanan hidupnya. Silakan masuk, duduk di mana aja dan baca-baca sesuka hati. Mau teh atau kopi? ^_^

11 Mei 2009

Inilah Jalan yang Kupilih!

Banyak yang bingung dengan jalan pikiranku, beberapa mengatakan mereka tak bisa memahamiku. Padahal, begitu sederhana sebenarnya. Hidup hanya sekali, jika kita menjalaninya dengan sebuah keterpaksaan, tak sesuai kata hati, kita tak akan memiliki kesempatan untuk mengulang hidup dari awal lagi. Ya, kadang kita memang perlu berkompromi dan melakukan sesuatu yang tak sesuai keinginan demi kebaikan yang lebih besar, tapi ada kalanya kita harus bertindak ekstrim untuk meraih yang dicita-citakan. Dan cita-citaku mudah saja: aku ingin bahagia dengan caraku.

Itulah yang mendorongku meninggalkan kuliahku di sebuah perguruan tinggi yang (mungkin) merupakan Institut Terbaik Bangsa. Aku telah berusaha menjalaninya selama tiga tahun dan selama itu pula aku tertekan. Mulanya, seperti banyak remaja sekolah lainnya, aku kadang memang masih plin-plan menentukan pilihan. Ingin menjadi sinematografer (karena keliatannya keren :p), desainer interior, dokter hewan, hehe... namun tak sekalipun terbersit keinginan menjadi engineer. Ketika mengatakan keinginanku untuk sekolah sinematografi di Jakarta, orang tuaku keberatan dengan biayanya yang, untuk ukuran keluarga pas-pasan seperti kami (pas butuh pas ada, hehe...), teramat mahal.

Akhirnya aku disarankan masuk perguruan tinggi negeri yang biayanya lebih murah (zaman angkatanku, biayanya masih di bawah Rp 500.000,00/semester!). Dengan memilih jurusan yang tidak banyak saingan (satu-satunya PTN yang memiliki jurusan itu hanya ada di Bandung) dan kesempatan mendulang dollar jika diterima bekerja di perusahaan asing, aku bisa sekolah lagi di sekolah manapun dengan uangku sendiri.

Itulah kesalahan pertama yang kubuat. Aku kuliah disana tidak dengan niat untuk meraih ilmu dan mengamalkannya. Aku hanya melihat iming-iming materi yang bisa kuperoleh jika aku lulus dari sana. Akhirnya, aku jadi merasa terjebak dalam ironi. Untuk pertama kalinya, aku takut menjadi kaya. Aku banyak menemukan orang-orang yang sukses secara materi menjadi kurang sensitif dengan kehidupan 'kelas bawah', betapa orang-orang kaya semakin sibuk dengan kekayaannya, semakin tak mengenal kaum miskin yang sebagian rezekinya dititipkan pada mereka. Betapa mereka memiliki rumah indah, anak-anak yang lucu, tapi banyak ditinggalkan demi tuntutan pekerjaan. Apa yang sebenarnya mereka kejar dengan gaji setinggi itu?

Hal ini diperparah dengan minatku yang lebih cenderung ke arah seni (meskipun tidak berbakat ya, tolong dicatat :p) dan benci setengah mati pada Fisika. Dosen-dosenku mungkin heran, soalnya pas ujian, kadang aku tak mengerjakan jawabannya, malah sibuk menggambar kucing, hihihi.... Aku masih bisa menikmati Matematika, tapi merasa nggak punya urusan dengan Bernoulli, Darcy, atau tetek bengek sumur pemboran :D

Harus kutekankan, aku tidak mengatakan bahwa semua yang kudapatkan di sana itu buruk. Sama sekali tidak. Aku bisa bertahan kuliah di sana selama tiga tahun karena aku memiliki teman-teman yang teramat baik (love them so much!) dan lingkungan yang menyenangkan. Hanya saja, aku merasa itu bukan jalanku. Sepertinya, aku salah belok jadi harus memutar untuk mendekati tujuanku. Masalahnya, tujuanku apa, sih?

Setelah banyak berpikir (dengan IQ jongkokku, hehe...), aku menyimpulkan bahwa aku paling senang dengan kreativitas menggambar dan menulis. Jadi, aku mulai mengintip-intip jurusan yang berkaitan dengan itu. Untuk ikut SPMB, umurku sudah expired :'( Untuk masuk ke jurusan seni, tidak cukup berbakat. Untuk masuk ke PTS bergengsi, tak kuat biayanya. Akhirnya aku menemukan sekolah (yang sekarang jadi almamaterku ^_^) di Jogja. Dengan biaya relatif terjangkau, biaya hidup lebih murah dan yang paling penting, konsentrasi kuliahnya adalah desain grafis dan multimedia periklanan.

Jadi, begitulah. Dengan 'menutup kuping' dan meneguhkan diri menerima semua resikonya, aku meninggalkan kampus megah bereputasi tinggi menuju sebuah kampus tak dikenal di Kabupaten Sleman (hihihi.... maaph kalo perbandingannya terlalu merendahkan... *peace*).

Dan inilah lucunya (sampai-sampai Jeng Yaroh menertawakanku dengan puas), ujung-ujungnya aku mendarat dan bekerja di sebuah tempat ber-'minyak', bertemu dengan senior-senior dan teman-teman kampusku yang dulu, tapi yang kukerjakan seputar grafis, ikut mengelola content web dan menulis di blog. So weird how destiny had brought me here, but so grateful for that ^_^

Kejadian-kejadian itu membuatku lebih memahami dan mudah menerima saat seseorang menentukan pilihan yang tidak sesuai dengan harapan banyak orang. Gelar sarjana tapi hanya jadi ibu rumah tangga, why not? Profesi seorang ibu adalah yang paling rumit sekaligus mulia. Lulus dari kampus terkenal tapi memilih menjadi aktivis mesjid, kenapa harus dicibir? Setiap orang punya hak untuk berbahagia dengan pilihannya, selama pilihan itu tidak menyalahi aturan. Toh, dalam Islam, yang paling penting adalah sejauh mana seseorang itu bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya, bukan sehebat apa jabatan dan kekayaannya. Betul? ^_^

5 komentar:

  1. jadi inget laskar pelangi, yang pas ujian malah gambar kucing :p nikmati aja dulu apa yang ada. yesterday is history, tomorrow is mystery, n today is...?

    BalasHapus
  2. kayanya aku satu2nya WNI yang belom baca & nonton Laskar Pelangi ya, hehe... *katrok*

    BalasHapus
  3. ah yang ini aja saya kasih koment..komentarnya.. aduh ini pasti curhat..atau hanya cerita saja..ah.. nepangkeun abdi si apih ti cikutra,

    BalasHapus
  4. Hehe... blog ini emang kebanyakan isinya curhat ya :">
    ah ga dosa, kan? :p

    Cikutra mah caket atuh, Apih, rorompok teh pan di Padasuka... ^_^

    BalasHapus
  5. hmm..kita ada di alam ini katanya sih dengan 2 sikap, sebagai mahluk individu dan sekaligus makluk sosial, disaat mengambil atau memnentukan pilihan disitulah kita sebagai individu yang tak bisa dipengaruhi org lain

    BalasHapus